Showing posts with label corat coret. Show all posts
Showing posts with label corat coret. Show all posts

Friday, 8 September 2017

Ibadah Dengan Bermakna

Paman saya dan istrinya naik haji tahun ini. Ketika pulang beberapa bulan yang lalu, saya terkejut ketika diberi kabar itu. Saya dengar orang kalau mau naik haji harus menunggu dulu hingga bertahun-tahun baru bisa berangkat. Eh, kok bisa hanya dalam hitungan bulan daftar sudah mau daftar? Lalu istri paman saya cerita, kalau mereka menggunakan nama orang lain. Dan untuk itu, mereka rela membayar hingga beberapa kali lipat dari biaya haji yang semestinya. Hal yang sepertinya tidak masalah bagi paman saya, yang syukur Alhamdulillah, memang punya cukup rejeki.



Awalnya, saya agak was-was, khawatir jangan-jangan paman saya kejebak calo yang cuma main tipu-tipu. Ingat kan beberapa waktu lalu bagaimana puluhan calon jemaah haji asal Indonesia alih-alih berangkat haji ke Mekkah malah terdampar di Filipina gara-gara mendaftar haji dengan menggunakan identitas palsu. Tapi untunglah, paman saya sepertinya cukup 'beruntung' karena ia dan istrinya kemudian benar-benar berangkat haji. Tapi ya itu, dengan menggunakan identitas orang lain. Bisa dibilang, ini jalur illegal.

Ketidakberuntungan justru menimpa tetangga kami di kampung. Sebut saja namanya Pak Makmur. Sama seperti paman saya, Pak Makmur ini juga dilimpahi banyak rejeki dan sebagai umat Islam yang baik, sepertinya juga ingin melengkapi rukun Islam-nya.  dan karena tak sabar menunggu antrian haji reguler yang lama itu, ia kemudian juga seperti paman saya, mendaftar lewat jalur ilegal. Hanya saja, agennya berbeda. Dan Pak Makmur tak seberuntung paman saya karena entah apa masalahnya, sudah dua tahun berjalan, Pak Makmur gagal naik haji. Dan persoalan 'gagal naik haji' ini kalau di kampung tentu menjadi tidak sepele, karena para tetangga yang nyinyir akan mulai memperbincangkannya. Meski banyak juga sebenarnya yang tak terlalu peduli. Lha untuk makan sehari-hari saja susah, kenapa juga harus meributkan orang yang mau naik haji yang secara umum bisa dibilang sudah selesai dengan urusan perut.

Melihat paman saya, tetangga saya, kasus Filipina, dan saya yakin banyak lagi kasus serupa, saya kemudian berpikir: apa sih sebenarnya makna  haji itu? Apa sebenarnya makna ibadah? Orang-orang seperti paman saya, tetangga saya, dan banyak lagi di luar sana mungkin naik haji karena ingin beribadah. Niatnya bukan saja baik, lebih dari itu, menunaikan rukun Islam. Tapi pertanyaan yang mengusik saya kemudian adalah: bagaimana kemudian makna ibadah itu jika prosesnya sendiri bukan melalui jalan yang baik?

Saya bukan orang yang memiliki banyak pengetahuan tentang agama, karenanya, seringkali hal ini membuat saya melihatnya dengan sinis. Orang-orang seperti mereka tentu merasa bahwa yang mereka lakukan bukanlah sebuah keburukan, karena meski bisa dibilang melanggar hukum, tapi toh tujuannya baik. Tapi benarkah? Soal legal ilegal, saya sendiri tak terlalu mempermasalahkannya. Toh hukum itu buatan manusia, sementara perintah ibadah dari Yang Di Atas datangnya. Tapi bahwa proses itu sendiri telah melibatkan unsur pencaloan, korupsi segala macam, memnurut saya itu hal yang kemudian patut dipertanyakan. Saya tidak yakin bahwa orang-orang yang terlibat dalam proses itu menjalankan praktek itu semata karena ingin menolong orang-orang supaya bisa 'beribadah.' Khawatirnya, mereka hanyalah para calo dalam arti sebenarnya. Menjalankan semua itu berdasar bisnis belaka dan yah, bisa dipahami kemudian kalau tetangga saya atau calon jelamaah yang nyasar di Filipina itu kemudian terkatung-katung. Tampak disana bahwa para calo itu memang tidak sungguh-sungguh ingin menolong orang supaya bisa beribadah, tapi dominan unsur bisnisnya. Saya sendiri ragu bahwa pihak yang berwenang (pemerintah) tak tahu menahu mengenai hal ini. Apalagi sepertinya praktik semacam ini sudah jadi 'rahasia umum' saja. Bukan bermaksud menuduh, tapi bukan tak mungkin kalau orang-orang yang punya kewenangan ini ikut terlibat.  Apalagi urusan haji ini melibatkan proses adminstrasi yang cukup rumit. Karena menggunakan nama orang lain, saudara saya kemudian harus menggunakan dokumen-dokumen yang empunya nama. Pendeknya, pemalsuan dokumen. Dan yah, proses semacam ini kemungkinan besar akan lancar kalau melibatkan orang-orang 'dalam' . Em, tidak gratis tentu saja. Dan bisa dipahami kemudian kalau jumlah biaya ibadahnya kemudian menjadi berlipat-lipat seperti itu, karena sebagian mungkin digunakan untuk melancarkan proses-proses tersebut.

 Tapi saya yakin, bagi para jemaah atau calon jemaah,  praktek-praktek semacam itu bukanlah hal buruk atau sebuah dosa. Sekali lagi, tujuannya kan baik, untuk ibadah.  Yang nanggung dosa seharusnya ya yang jadi calo, yang tipu-tipu. Tapi para calo sendiri mungkin juga punya pembenaran: tujuannya baik kok, 'mempermudah' orang yang mau ibadah.  Tapi kalau dinalar-nalar, kok rasanya proses semacam itu tidak bisa dibilang baik-baik saja ya. Ya kalau prosesnya lancar seperti paman saya itu sih tak terlalu masalah. Kedua belah pihak sama-sama senang. Tapi bagaimana dengan mereka yang kena tipu seperti tetangga saya, Pak Makmur itu, atau rombongan jemaah yang terdampar di Filipina itu? Pihak pertama yang pasti akan dipersalahkan tentulah para agen atau calo yang dengan kurang ajarnya menipu itu. Sementara para jemaah adalah korbannya, dan karenanya tidak bersalah. Tapi benarkah?


Proses ilegal ini itu terjadi karena adanya kedua belah pihak: si agen dan calon jemaah. Dalam kasus seperti paman saya atau tetangga saya, bahwa proses ini ilegal, sebenarnya sudah diketahui sejak awal.  Meski mungkin resiko-resikonya tak terlalu mereka pahami. Tapi pendeknya, mereka secara sadar menerima proses itu. Dan karena adanya orang-orang yang dengan suka rela terlibat dalam proses itu, maka merajalelah praktek semacam itu, termasuk kemudian aksi penipuan di dalamnya. Jadi ya secara tidak langsung, para calon jemaah yang niatnya suci itu, juga berkontribusi dalam praktek tipu-tipu itu. Dan kalau dipikir secara logika sih, seherusnya mereka juga ikut menanggung dosanya. Tapi entahlah. Saya sendiri tak berani menjudge. Urusan dosa dan amalan itu sepenuhnya kewenangan Yang Mahakuasa yang berhak memberinya. Hanya saja, menurut saya, kalau memang tujuannya baik, untuk beribadah pula, tidakkah akan lebih pas jika dijalankan melalui proses-proses yang baik pula? Yah, mungkin dengan begitu ibadahnya jadi akan lebih berkah, benar-benar menjadi sebuah ritual yang suci dan bermakna. Benar memang ibadah haji itu bagian dari rukun Islam yang wajib ditunaikan (bagi yang mampu, dan secara umum dimaknai sebagai mampu secara finansial), tapi saya pikir, pemenuhannya bukan hanya dengan pergi ke Mekkah dan melakukan segala ritualnya semata. Lebih dari itu, menunaikan ibadah haji sebagaiamana ibadah-ibadah lainnya, adalah proses untuk menyucikan hati dan pikiran. 

Jambi. Bulan Haji 2017. 23 Agustus 2017.

Sunday, 13 August 2017

Kepergian Chester & Ketidakbahagiaan Kita

Chester...
Chester meninggal dunia. Saya cukup terkejut ketika membaca berita ini di timeline medsos saya. Dan lebih terkejut lagi ketika tahu bahwa kematiannya disebabkan bunuh diri. Duuuh...  😢😢

Saya bukan fans berat Chester ataupun Linkin Park (sering disingkat LP). Tapi sebagai generasi yang melewati masa remaja di era boomingnya lagu-lagu  mereka, saya cukup akrab dengan beberapa lagu mereka yang ngehits seperti Faint, In the End, Crawling... Menurut saya mereka keren, musiknya bagus dan enak didengar. Pada masanya, mereka adalah salah satu band terbaik. Dan di antara anggota Linkin Park, hanya Chester dan Mike Shinoda yang kemudian saya hafal nama dan familiar dengan wajahnya. Kalau Mike,  karena dia satu-satunya keturunan Asia di sana yang membuat saya merasa 'serumpun.' Sementara Chester adalah sang vokalis, dan sebagaimana umumnya vokalis band, seolah selalu didapuk menjadi wajah depan bandnya. Di samping itu, suara Chester memang sangat enak di dengar. Konon pula, Chester yang banyak berkontribusi pada penulisan lagu-lagu Linkin Park
Linkin Park, yang jadi bagian masa remaja saya
Belasan tahun berlalu sejak era kejayaan mereka. Saya sendiri tak terlalu mengikuti perkembangan band ini dan tidak pernah update lagu-lagu terbaru mereka meski saya dengar kalau mereka masih eksis. Dan tetiba, kabar kematian Chester!

Musisi atau pekerja seni meniggal karena bunuh diri, bukanlah hal baru kalau tidak mau dibilang sangat sering malah. Beberapa waktu lalu, ada aktor gaek Robbin Williams juga meninggal karena bunuh diri. Sebelum-sebelumnya, ada aktor Heath Ledger (yang baru berusia 27 tahun dan sedang di puncak karirnya), Ammy Winnehouse, Kurt Cubain... Dan pertanyaan saya selalu sama: kenapa???? Kenapa harus bunuh diri?

Bunuh diri, apapapun caranya, umumnya dilakukan karena si pelaku mengalami depresi akut yang membuat hidupnya menjadi terasa tak tertahankan. Pendeknya, bunuh diri terjadi karena ketidakbahagiaan.  Untuk kasus Chester, saya  membaca bahwa Chester mengalami hal mengerikan di masa lalu. Hal yang sepertinya kemudian menjadi momok gelap dalam hidupnya: orang tua yang bercerai, korban bully dan pelecehan seksual ketika kecil, pribadi minderan dan tidak percaya diri.... Momok gelap itu kemudian membawanya lari ke alkohol dan obat-obatan. Hal yang sepertinya tak pernah benar-benar dilepaskan dari hidupnya. Beberapa hari menjelang kematiannya, sahabat terbaiknya, Chris Cornell, meninggal karena bunuh diri juga. Kesedihan yang mendalam itulah yang mungkin memicu tindakan bunuh diri Chester.

Mengalaminya sendiri pastilah sangat sulit, dan saya tak ingin mengatakan bahwa penderitaan Chester rasanya 'tak seberapa.' Hanya saja, bagi saya pribadi, seringkali tak habis pikir kenapa sih orang-orang  dengan nama 'besar' seperti Chester (dan juga yang lain) merasa begitu tak bahagia? Di mata orang awam seperti saya, rasanya mereka punya 1001 alasan untuk bahagia. Dalam kasus Chester, meski mengalami masalalu yang menyakitkan, tapi toh kemudian dia berhasil membuktikan kepada dunia bahwa dia menjadi 'seseorang' dengan S besar pula. Namanya dikenal di seluruh penjuru dunia, bakat musiknya dipuja-puji, karirnya cemerlang, ia juga sudah menikah dan punya anak. Meski mungkin belakangan popularitasnya semakin menyurut, tapi saya yakin, secara materi ia tak berkekurangan. Saya bahkan membaca kalau beberapa hari sebelum kematiannya, ia menuliskan hal-hal positif di twitter-nya. Dengan semua hal itu, rasanya ia punya banyak alasan untuk bahagia bukan?

Hmm, yah, tapi hidup memang tak sesederhana itu. Setiap orang punya alasan ketidakbahagiaannya sendiri-sendiri. Wang sinawang, kata orang Jawa. Apa yang kita pikir bisa membuat kita bahagia, belum tentu bagi orang lain. Ukuran kebahagiaan orang berbeda-beda. Bisa jadi bahwa seorang yang miskin harta, yang rumahnya gubuk reyot dan untuk makan sehari-hari saja susah, ternyata bisa lebih sering bahagia daripada seorang yang berlimpah harta dan tinggal di rumah mewah. Karenanya, betul kata sebuah kata-kata bijka kalau kebahagiaan itu terletak bukan pada apa yang terjadi atau apa yang kita alami, tapi tentang bagaimana kita memandang tentang apa yang terjadi atau yang kita alami.  Hidup kadang memang sulit dan menyebalkan, tapi mungkin kita bisa menghibur diri, kalau justru itulah yang membuat hidup ini menarik. Kalau hidup lurus-lurus saja, pastilah membosankan. Lagipula, kalau kita tidak pernah merasakan ketidakbahagiaan, bagaimana kita tahu apa artinya kebahagiaan? Ketidakbahagiaan membuat kita jadi lebih menghargai hal-hal yang bisa membuat kita bahagia. So, let's be HAPPY!😄


RIP Chester Bennington | Jambi, 21 Juli 2017

Sunday, 17 January 2016

Buku-Buku yang Mengesankan

Pada dasarnya, semua buku bermanfaat. Seburuk apapun sebuah buku, selalu ada hal yang bisa dipelajari di dalamnya. Meski begitu,  ada beberapa buku yang meninggalkan kesan mendalam setelah membacanya. Berikut beberapa buku yang menurus saya, sangat mengesankan:

1. To Kill A Mockingbird (Harper Lee)
Novel yang konon merupakan semi-biografi penulisnya, Harper Lee ini selalu terasa abadi. Memaparkan ide tentang kebaikan  dan kebijaksanaan yangterasa universal. Diceritakan melalu sudut pandang Scout, seorang bocah perempuan sehingga terasa begitu mengharukan dan jauh dari kesan menggurui

2. The Yearling (Marjorie K. Rawlings)
Saya 'tak sengaja' menemukan buku ini ketika ada obral buku di Gramedia. Waktu itu, saya memutuskan membeli karena tebal dan sampulnya menarik. Begitu mulai membacanya.... saya langsung jatuh cinta. Berkisah tentang Jodie, seorang bocah lelaki berhati lembut yang tinggal bersama orang tuanya di sebuah tanah pertanian yang terpencil di Florida. Di tengah rasa kesepian, Jodie kemudian menjadlin persahabatan dengan seekor anak rusa, Flag. Tapi ini tidak akan menjadi dongeng atau semacamnya, karena diceritakan dengan begitu liris dan realistis. Indah dan mengharukan.

3. Sang Alkemis (Paulo Coelho)
Sebuah novel fenomenal abad ini. Semacam dongeng tentang mewujudkan Legenda Pribadi. Bertabur kata-kata indah yang sangat menginspirasi.

4. Pangeran Kecil (Antoine Saint de Exuperry)
Ini adalah tentang petualangan Pangeran Kecil dari planet B-612 yang dicintai anak-anak dari seluruh penjuru dunia. Kisah 'sederhana' yang disajikan dengan sangat indah, gambar-gambar yang lucu dan melambungkan fantasi anak-anak.

5. The Cathcer in the Rye (J.D. Salinger)
Novel ini dianggap kontroversial karena gaya penulisannya yang banyak menggunakan kata-kata kasar.  Meski di sisi lain, justru itulah salah satu kekuatan buku ini yang menjadikannya sangat realistis karena tokoh utamanya, Holden Caulfield, adalah remaja sinis dan pahit. Tapi di atas semua itu, sebenarnya ini adalah novel yang 'lembut' dan mengharukan tentang kegalaun di masa coming age.
Note: Meski mungkin sudah ada edisi terjemahan, tapi saran saya, bacalah edisi bahasa Inggrisnya karena salah satu kekuatan utama novel ini adalah pada permainan bahasanya.

6. The Golden Road (Lucy Maud Montgomerry)
Novel klasik yang berkisah tentang beberapa anak-anak yang menghabiskan liburan di sebuah desa yang indah permai di Pulau Prince Edward. Ceritanya sangat manis dengan penggambaran latar yang memukau ala Lucy Montgomerry.

7. Dunia Sophie (Jostein Gardeer, juga Misteri Soliter)
Filsafat seringkali dianggap sebagai materi yang berat. Tapi Jostein Gaarder membuatnya terasa 'ringan' dan menyenangkan, melalui Sophie, seorang bocah perempuan yang cerdas. Menurut saya, seharusnya novel ini menjadi bahan ajar di sekolah-sekolah dasar agar anak-anak bisa belajar filsafat sejak dini.

8. Negeri Salju (Yasunari Kawabata)
'Menemukan' novel ini di antara buku-buku usang di perpustakaan daerah belasan tahun yang lalu. Meski waktu itu merasa ceritanya agak absurd, tapi penceritaan novel ini meninggalkan kesan yang sangat mendalam dan bahkan membuat saya bercita-cita untuk mengunjungi Jepang suatu ketika.

9. Seribu Tahun Kesunyian (Gabriel Garcia Marquez)
Judulnya saja, sudah menarik. One Hundred Years of Solitude. Berkisah tentang kehidupan beberapa generasi Buendia yang penuh tragedi. Seperti genre-nya, realisme magis, novel ini memang meninggalkan kesan magis setelah membacanya.


10. Arok Dedes - ( Pramoedya Ananta Toer juga tetralogi Pulau Buru)
Kisah Ken Arok yang 'merebut' si cantik Ken Dedes setelah membunuh suaminya, bupati Tumapel, Tunggul Ametung, tentu adalah cerita yang terasa akrab bagi kita karena memang tercantum dalam buku-buk sejarah. Tapi di tangan Pram cerita ini bukan sekedar tentang tragedi berdarah yang melatari pendirian kerajaan Singosari. Ini adalah juga tentang kisah bagaimana Ken Arok, yang hanya seorang rakyat jelata, berusaha untuk mewujudkan ambisinya hingga ia menjadi 'seseorang.' Dan Pram menuturkan semua itu dengan keahlian berceritanya yang selalu mengagumkan.

11. Kitab Omong Kosong (Seno Gumira Ajidarma)
Saya selalu mengagumi tulisan-tulisan Seno. Selain banyak rangkaian kata indahnya, juga gaya penokohannya yang kadang terkesan 'seenaknya.' Pun dengan novel tebal ini. Seno menggabungkan cerita klasik pewayangan dengan imajinasinya yang luar biasa.

12. Olenka (Budi Darma)
Well, salah satu sastrawan lain yang saya kagumi. Gaya penceritaannya, penokohannya... pokoknya, sukalah dengan tulisan-tulisan Budi Darma.

13. Saman (Ayu Utami,
juga sekuelnya: Larung)

Salah satu novel yang seolah menandai 'tren' baru dalam dunia kepenulisan di Indonesia dan dipandang agak sinis oleh beberapa pihak 'sastra kelamin.' Whatever, saya menyukai gaya penceritaan Ayu Utami yang lugas, kelam tapi juga indah dengan caranya sendiri.

14. Norwegian Wood (Haruki Murakami)
Sebuah novel yang menggabungkan depresi, hingar bingar kehidupan anak muda tahun '60-an dan The Beatles! Muram, tapi meninggalkan kesan mendalam usai membacanya.

15. The Unbearable Lightness of Being (Milan Kundera)

Ini adalah tentang Tomas, yang terlibat hubungan rumit  dengan Tereza dan Sabina. Tapi tentu saja, seorang Milan Kundera tidak hanya berkisah tentang cinta segitiga. Tapi juga mengulas pertanyaan-pertanyaan tentang eksistensi manusia di tengah situasi kota Praha yang tak menentu di tahun '60-an.


16. Harun dan Samudera Dongeng (Salman Rushdie)
Kisah yang indah tentang Harun dan ayahnya, Si Pendongeng yang kehilangan kemampuan mendongengnya setelah sebuah tragedi. Sebuah dongeng yang indah, menghibur dan juga mendidik.

17.  Anna Karenina (Leo Tolstoy)

18. Kejahatan dan Hukuman (Fyodor Dotoyeski)

19. Please  Look After Mom (Kim Yok-shin)
Cerita dalam buku ini, terasa sangat dekat. Tentang sosok seorang ibu sederhana, yang menjadi kunci utama bergeraknya roda kehidupan di rumah, tapi seringkali terlupakan.

20. Caramello (Sandra Cisneros)
21. Amarah/ The Grape of Wrath (John Steinbeck)
22. The Heart is Lonely Hunter  (Carson McCullers)
23. The Railway Children (Edith Nesbit)


Sunday, 25 October 2015

Masih Tentang I Promise You

"Suda punya. Bagus ceritanya. Tp ada bbrapa ketikan kata yg salah spt blum di edit." (Novi Putri di laman facebook/gagasmediapage/photos_stream)

Sebuah komentar yang di satu sisi membuat saya tersanjung tapi di sisi lain juga membuat saya tertohok. 


Buku, bagi seorang penulis ibarat anak-anak yang ia lahirkan dari rahim pikirannya. Sungguh sebuah kebahagiaan tak terkira ketika akhirnya melihatnya terbit, mewujud dalam bentuk buku. Namun bagaimana jika si anak yang lahir tak sesempurna yang ia bayangkan? Tak urung, sepercik kecewa pun hinggap. Itulah yang saya rasakan setelah kelahiran buku saya, I Promise You.

Secara umum, buku saya sudah hampir sesempurna yang saya bayangkan. Mulai dari desain sampul, bentuk buku, tata letak hingga pilihan font-nya... semuanya 'sempurna' (much thanks to tim Gagas yang kreatif dan keren habis!). Kebahagiaan itu nyaris sempurna sebelum kemudian saya membaca lagi tulisan saya yang sudah berbentuk buku.

Bagi saya, sebagai "ibu" dari buku ini, tahu persis apa yang ingin saya sampaikan, menyadari kalau kemudian--karena beberapa hal, menjadi tak sepenuhnya tersampaikan-- merasa sangat tidak nyaman. Dan dalam hal ini, saya sama sekali tak ingin menyalahkan siapa-siapa. Seperti saya tulis sebelumnya, buku ini sudah melalui proses editing yang lama (sekitar 2 tahun!). Secara substansi, sebenarnya tak terlalu banyak perubahan dengan tulisan asli yang saya kirim dalam proses editing. Editing lebih banyak ke pengejaan serta pemangkasan beberapa bagian yang dianggap bertele-tele. Saya yakin, editor sudah bekerja keras membuat tulisan saya lebih layak baca. Saya juga selalu dilibatkan dalam proses editing. Namun, yah itulah. Lamanya proses editing yang kadang juga terputus-putus, jujur saja membuat 'feel' saya terhadap tulisan ini menjadi agak berkurang. Hal tersebut juga mengurangi ketelitian saya. Ditambah lagi kenyataan bahwa saya adalah seorang pemula, yang tak sabar melihat buku ini terbit,  lamanya proses editing ini membuat saya agak frutrasi sehingga kadang saya sampai pada titik jenuh dan berpikir: "yang penting segera terbit." Hal yang kemudian saya sesali.

Dan yah, bagaimanapun, buku sudah tercetak. Si bayi sudah lahir. Bagi para pembaca yang mungkin jadi terganggu ketika membaca novel ini, saya sebagai penulis, mohon maaf yang sebesar-besarnya.  Segala kekurangan dalam novel ini adalah sepenuhnya kekurangan saya.


Beberapa ralat:
Halaman 25 bagian :"... kemampuan dia mulai menyalakan mesin." seharusnya "kemudian dia mulai menyalakan mesin."

Halaman 60 bagian: "... adalah perempuan gila yang suka berkeliaran di kompleks perumahan ini " seharusnya "perumahan kami"

Halaman 67: "Wah Ugo itu benar-benar hebat ya Yah, masih muda ganteng, dokter lagi!" seru Ibu beberapa saat sepeninggal Ugo dan mamanya, dan kami duduk menonton televisi di ruang tengah. (seharusnya bagian ini dihilangkan karena pengulangan kalimat di atasnya)

Halaman 70:  "Kami sempat ngobrol-ngobrol sebentar sebelum memintaku membelikannya karena susunya habis" .seharusnya "Kami sempat ngobrol-ngobrol sebentar sebelum Ibu  memintaku membelikannya susu karena susunya habis."

Halaman 117: " Karena sekali aku ketiduran" seharusnya "" Karena lelah sekali aku ketiduran"


Halaman 187:  "Meski bukan fotografer profesional, aku kadang harus merangkap jadi fotografer juga." ke paragraf "Aku tuh bagusnya di ambil..." seharusnya ada kalimat penghubung.

Halaman 214: "Tapi sekarang? Bahkan aku merasa takut untuk bicara dengannya." ke paragraf: "Aku mengatur napasku sebelum memutuskan menyentuh tombol "answer". ada kalimat penghubung.

Halaman 245: "aku benar-benar tak mengerti kenapa Dira polos sekali soal cinta padahal mereka sebaya. " seharusnya "aku benar-benar tak mengerti kenapa Dira polos sekali soal cinta padahal kami sebaya."

halaman 250: "Aku benar-benar berharap Ugo, akan bisa membuat Dira selalu bahagia." ke paragraf: "Aku pun memutuskan ke rumah Dira. " ada kalimat penghubung

Wednesday, 26 August 2015

My Unimaginary Life

Hidup, bagi saya, kadang laiknya sebuah puzzle. Berisi serakan serpih-serpih yang harus dikumpulkan satu demi satu untuk menemukan bentuknya yang utuh. Kadang, puzzle itu begitu rumitnya, mewujud dalam hal-hal yang nyaris tak terbayangkan.

Seolah mengumpulkan serpih puzzle juga ketika saya tiba-tiba terdampar pada suatu tempat, bertemu seseorang atau orang-orang, melakukan hal-hal-- yang bahkan tak pernah terlintas di benak saya. Di satu sisi, hal-hal tersebut membuat saya merasa absurd: kenapa dan apa makna dari semua ini? Namun di sisi lain, hal-hal tersebut juga membuat saya takjub. Merasakan hidup yang penuh kejutan menarik. What a wonderful unimaginary life!

Friday, 12 June 2015

Hal-Hal Berkesan Menjadi Remaja Era 90-an Akhir

Akhir 90-an, yah, sudah hampir 20 tahun berlalu. Semakin membuat sadar bahwa usia sudah semakin tuwir, hihi. Anehnya, rasanya baru beberapa waktu lalu masa-masa itu berlalu. Orang mengatakan bahwa masa remaja adalah salah satu masa yang paling indah. Dan saya nggak tahu, apa karena saya mengalami masa remaja di tahun itu, sehingga merasa bahwa akhir 90-an adalah salah satu masa yang paling menyenangkan. Bagaimana tidak, era akhir 90-an ada begitu banyak hal yang berkesan dan notable untuk diingat.

1. Musik Keren: Anak Band & Boyband.
Sebut saya subyektif, tapi saya pikir banyak yang setuju juga kalau era akhir 90-an adalah salah satu era terbaik dalam dunia musik. Setelah musik jedak-jeduk, cethas-cethus era 80-an hingga 90-an awal berakhir, mulai sekitar pertengahan  90-an bermunculan aliran musik yang terasa lebih 'anak muda' dengan musik lebih bervariasi, mulai dari pop, RnB, ska dan tentu saja, rock alternatif. Yup, terutama alternative rock yang diusung oleh band-band anak muda yang keren-keren. Tetap dijalur musik populer, tapi terasa lebih sophisticated yang bahkan lagu-lagunya tetap terasa everlasting didengarkan hingga sekarang. Sebut saja band-band keren seperti Greenday, The Cranberries, Blink 182, Blur, Gorrilaz, hingga band band yang dengan anggota yang lebih imut-imut dan bikin histeris cewek-cewek ABG: Hanson dan The Moffats! Hei, remaja 90-an (akhir), ngaku, siapa yang nggak koleksi poster mereka di kamar? :D

Hanson, the Taylor brothers  yang imut-imut
The Moffats!

Tak mau kalah, dari dalam negeri juga bermunculan band-band anak muda yang nggak kalah keren seperti Base Jam, Padi, Naff, Cafein, Sheila on 7 dengan lagu-lagu yang juga terasa everlasting.

Yang lokal juga gak kalah keren :D

Tidak hanya itu, selain anak-anak band, era ini juga menandai menjamurnya boyband dengan anggota cowok-cowok macho nan rupawan seperti N'Sync, Boyzone, Backstreet Boys, 98 degrees, AI dan tentu saja yang paling ngehits: Westlife! Tak mau kalah, di jajaran cewek juga muncul girlband. Yang paling fenomenal tentu saja Spicegirls yang meski berumur pendek tapi mengukir sejarah tersendiri bagi girlpower. Juga ada duo M2M dengan lagu-lagunya yang semanis gulali, Tatu yang agak kontroversial...

Westlife
The phenomenal Spicegirls!


2. Serial TV remaja

Era akhir 90-an juga menandai tren serial TV remaja. Jika sebelumnya didominasi serial yang lebih 'tua' seperti Friends, Baywatch, atau Beverly Hills, maka pada era 90-an akhir, muncul drama-drama remaja yang ngehits seperti Popular, Girlmore Girls dan tentu saja yang paling notable dan my favourite ever: Dawson's Creek! Sebuah drama remaja yang terasa sangat realistis, memadukan cerita tentang coming age story, persahabatan, keluarga dan kisah cinta yang klasik, dengan latar kota kecil Capeside yang tenang dan indah permai adalah ramuan jenius Kevin Williamsons, sang sutradara. Belum lagi sisipan soundtrack lagu-lagu terbaru yang keren-keren banget di setiap episode menjadikan Dawson's Creek terasa begitu fresh dan juga everlasting (sayang, serial ini menjadi terlalu panjang, 6 seasons, yang membuat lama-lama jengah mengikutinya dan well, I don't like the ending :( ).
 

The notable Dawson's Creek!

Dari dalam negeri tak mau ketinggalan, sinetron bertema remaja Cerita Cinta, yang terasa cukup solid yang kemudian melejitkan aktor-aktor muda pada jamannya seperti Cindy Fatika Sari, Teuku Firmansyah, Marcella Zalianty, Mario Lawallata, Ferry Maryadi, Louise Anastasia... dipadu soundtrack lagunya Dewa 19 yang juga terasa kena banget, Separuh Napasku (sampai sekarang kalau saya dengar lagu ini selalu ingat masa-masa itu, he).

3. Majalah Remaja
Di era akhir 90-an, internet belum terlalu populer. Masih banyak yang gaptek (termasuk saya) dan aksesnya juga terbatas di warnet-warnet. Informasi gosip dan dunia remaja diperoleh dari majalah-majalah remaja. Ada Aneka Yess! yang semarak dengan jajaran coverboy-covergirlnya, Kawanku yang terasa lebih smart, Gadis yang sangat girly dan Hai yang lebih cowok.  Menjadi seru karena hampir selalu ada  bonus poster-poster seleb keren yang bisa jadi pajangan di kamar. 



4. MTV
Harus diakui, tayangan TV lokal sejak dulu memang begitu-begitu saja. Diisi dengan berbagai sinetron yang episodenya hanya Tuhan yang tahu kapan akan berakhir. Karenanya, nonton TV kadang menjadi nggak banget kecuali kalau pas ada serial favorit, itu pun seminggu sekali. Untunglah, masih ada tayangan MTV yang terasa sangat anak muda dengan VJ-VJ yang keren-keren seperti Sarah Sechan, Jamie Aditya, Alex Abad... yang setia menyajikan info musik dan memutarkan video klip terbaru yang keren-keren.


5. Buku Lagu

Masih berkaitan dengan musik, menghafalkan lagu-lagu terbaru menjadi salah satu tren sehingga bisa ikut menyanyi kalau pas lagunya diputar di radio atau di di tv. Untuk itu, perlu mengetahui liriknya tentu saja. Kalau lagu-lagu lokal, tentu bukan hal yang sulit. Beda halnya dengan lagu-lagu berbahasa Inggris yang antara tulisan dan cara bacanya beda. Karena waktu itu akses internet belum semudah sekarang untuk cari dunlutan lirik lagu, cara terbaik adalah dengan mencatatnya. Caranya adalah cari di majalah, lalu dikliping atau disalin di buku khusus. Kalau nggak ada di majalah, ya kadang harus mendengarkan beberapa kali dan mencatatnya, hitung-hitung belajar listening Bahasa Inggris. Dulu, hampir semua teman di kelas saya (terutama cewek), punya buku khusus lirik lagu semacam ini sehingga bisa saling pinjam meminjam.

6. Fashion
Mengakhiri era 90an awal dengan fashion yang warna-warni dan gombrong-gombrong, era 90an akhir ditandai dengan era fashion yang lebih minimal, alias sempit. Kaos atau t-shirt ketat menjadi tren terutama di kalangan remaja cewek. Kaos yang memperlihatkan pusar atau sedikit melorot di pantat adalah hal yang wajar. Dipadu dengan celana (agak) cutbray. Untuk make up, tahun 90-an akhir ini menurut saya juga lebih baik karena warna-warnanya lebih natural. Untuk gaya rambut, mulai populer rebonding, potongan shaggy atau trap ala Jennifer Aniston.

Potongan rambut yang tidak beraturan menjadi tren

Sementara untuk cowok, hmm, standar sih. Paling rambut belah tengah, hihi.

7. Rental Komputer & DisketAkhir 90-an, penggunaan komputer untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah sudah mulai marak. Karena kepemilikan komputer pribadi masih jarang, ya caranya adalah dengang menyewa alias rental yang biasanya dihitung per jam. Satu jam bervariasi, antara Rp. 700 - Rp. 1500-an. Tergantung tempatnya. Biasanya murah kalau dekat-dekat kampus. Nah, untuk menyimpan file-nya, karena belum dikenal flashdisk yang kecil nan praktis, ya pakai floppy disk atau disket. Harganya sih nggak mahal, sekitar Rp. 5000-an, tapi kapasitasnya juga sangat kecil. Satu disket hanya berkapasitas 1,44 MB, jadi paling hanya muat beberapa file word kalau buat nyimpen gambar, 2-3 gambar langsung penuh.  Dan yang paling menyebalkan adalah si disket ini mudah sekali rusak dan terserang virus :(


 

8. Chatting
Era akhir 90-an juga ditandai dengan mulai populernya komunikasi lewat internet.Warnet-warnet mulai menjamur dan jadi tempat tongkrongan baru anak muda. Chatting adalah salah satu komunikasi termurah untuk mencari kenalaan lintas daerah bahkan lintas negara. Layanan chatting yang populer waktu itu adalah MIRC atau ICQ dengan tampilan yang sederhana, tapi mudah dan efektif. Cukup login, cari-cari member lain yang online, tinggal ketik "ASL, pls" dan obrolan pun dimulai.


Nah, dari chatting di dunia maya ini dampaknya bisa panjang. Karena obrolan nyambung, kadang mulai tumbuh benih-benih suka walaupun nggak pernah bertatap muka. Dari sini bisa dilanjutkan dengan obrolan lebih intensif lewat telepon atau kalau memungkinkan, ketemu langsung alias kopi darat. Nha, kopi darat ini juga banyak ceritanya. Kadang, karena namanya komunikasi di dunia maya, orang iseng saja mengaku dirinya begini atau begitu, jenis kelaminnya cowok atau cewek, dan ternyata pas kopi darat nggak seperti yang dibayangkan alias mengecewakan. Kalau sudah begini, biasanya hubungan akan segera the end alias nggak berhubungan lagi sama sekali. Tapi ada juga yang justru merasa semakin sreg setelah kopi darat dan ujung-ujungnya jadi teman dekat atau menjalin hubungan yang lebih serius seperti pacaran, atau bahkan ada yang sampai menikah. 


9. Reformasi. Remaja era 90-an akhir mengalami salah satu peristiwa penting dalam sejarah negeri ini: reformasi. Ini adalah era  yang juga ditandai dengan berbagai kerusuhan di berbagai tempat terutama di kota-kota besar. Dan mungkin pada beberapa orang meninggalkan trauma. Tapi tidak bisa dipungkiri, ini adalah juga era baru keterbukaan dan kebebasan. Istilah-istilah berbau politik bermunculan seperti KKN, Korupsi, Kolusi, Nepotisme.
 

10. Heboh era millenium. Akhir tahun 90an menandai berakhirnya milenium lama dan mulainya milenium baru. Banyak berita simpang siur terkait bergantinya era ini dan kadang bikin ketarketir karena ada isu akan terjadi kekacauan, millenium bugs, atau bahkan kiamat. Tren fashion baru juga berkembang, pakaian warna millenium yakni abuabu perak yang menurut saya nggak banget.
 



Tuesday, 27 January 2015

Bernostalgia dengan Zaman Surat-Menyurat

Tiba-tiba ingin bernostalgia dengan jaman ketika komunikasi masih diperantarai oleh surat-menyurat. Lima belas tahunan yang lalu. Hmm, sudah cukup lama juga ya ternyata? Kalau dihitung-hitung, seusia satu generasi remaja. Kasihan juga ya generasi yang nggak merasakan serunya surat menyurat? (hihi, sebenarnya ini hanya penghiburan dari seorang generasi yang baru sadar kalau dirinya sudah tua ^-^).

Surat Cinta 

Ini tentu yang paling ngetren di jaman surat-menyurat. Meski pacaran dengan cowok satu sekolah ataupun tetangga sebelah, rasanya nggak afdol kalau tanpa surat-surat cinta. Kalau dipikir-pikir agak aneh juga sih karena sebenarnya nyaris bisa ketemu tiap hari, tapi kalau kirim surat bisa berlembar-lembar. Tapi mungkin juga karena cara bergaul waktu itu belum seterbuka sekarang. Pacaran berdua-duaan masih agak tabu. Lantas apa saja sih yang biasanya ditulis dalam surat cinta? Sepengetahuan saya sih biasanya cuma gombal-gombalan dan bujuk rayu mendayu-dayu yang menggelikan.

Nah untuk surat cinta ini, perlu perlakuan khusus. Kertasnya nggak bisa sembarangan. Nggak harus sih, tapi sebaiknya pakai kertas khusus lengkap dengan amplopnya. Kalau cuma pakai kertas buku tulis biasa, rasanya gimana...gitu. Untuk kertasnya sendiri sangat mudah mendapatkannya karena banyak di jual di warung-warung. Kertasnya penuh motif, biasanya berbunga-bunga dan harum pula. Jika kurang wangi, tinggal disemprot pakai minyak wangi. Gombalan biasanya dimulai sejak kalimat pembukanya : Toex Ytc./Yts./Ytr./Ytk... (yang tercinta/yang tersayang/yang terindu/yang terkasih.. :P) Jika sudah puas menggombal, tinggal lipat rapi, masukkan ke amplop, dilem (kalau mau irit, pakai nasi :D), kirim deh. Karena penerimanya cuma dekat-dekat saja, tak perlu pakai jasa tukang pos tapi cukup dititipkan pada seorang mak comblang. Biasanya adalah teman dekat si kekasih hati yang bisa dipercaya. Nggak lucu kan kalau surat yang kita kirim dibaca duluan sama si mak comblang?
 

Surat Untuk Artis Idola
Selain surat cinta,  tren surat menyurat yang lain adalah kirim surat ke artis idola. Alamat artis-artis idola biasanya dicantumkan di majalah-majalah langganan.  Isi suratnya sih biasanya menyatakan sebagai fans dan minta dikirimi foto atau merchandise. Seringkali pakai sarat:  diharapkan mengirimkan prangko balasan kalau mau dibalas.

Koleksi Perangko  (Filateli)
Ketika Pak Pos datang, selain mengantarkan surat-surat, beliau biasanya juga akan menawarkan majalah terbitan Kantor Pos dan di situ, biasanya dimuat informasi tentang hobi mengumpulkan perangko. Saya sendiri ingin sekali memiliki hobi itu apalagi kalau melihat gambar yang tercetak di perangko unik dan lucu-lucu. 

(sumber foto: museumindonesia.com)

Namun apalah daya, saya tak pernah punya kelebihan uang jajan untuk membeli perangko. Biasanya saya hanya menyimpan perangko-perangko bekas, itu pun di album yang biasa saja sehingga pastilah secara kualitas tidak terjaga. Kebetulan tempat penampungan surat ada di dekat sekolah dan sering saya iseng 'ngleteki' prangko dari surat-surat milik orang yang prangkonya bagus. Pernah saya mencoba membeli satu seri perangko, niatnya untuk koleksi, tapi kemudian habis saya pakai buat mengirim surat.  

Kartu Pos
Saya jarang menulis surat lewat kartu pos. Lebih sering kartu pos hanya untuk mengirim jawaban kuis di majalah remaja, karena memang biasanya disyaratkan begitu. Namun beberapa kali saya pernah mendapat kiriman kartu pos dari teman-teman saya yang sedang liburan ke luar negeri dan rasanya menyenangkan, karena gambarnya biasanya keren-keren.


Sahabat Pena
Ketika remaja, hobi surat menyurat saya makin menjadi dengan adanya tren sahabat pena. Sangat mudah mendapatkan sahabat pena. Salah satunya dengan membeli LKS. Nah, di sampul belakang LKS ini biasanya tercantum foto berikut biodata orang-orang yang bisa diajak bersahabat pena. Saya pernah coba, tapi entah kenapa, tak dibalas. Cara lain adalah mengirim surat program sahabat pena di RRI Nasional. Dan itulah yang kemudian saya lakukan. Caranya hanya berkirim surat ke radio, menyatakan bahwa kita ingin mencari sahabat pena lengkap dengan alamat kita. Nanti sang penyiar akan membacakan surat kita berikut alamat. Dan eng, ing, eng...ternyata cara ini sangat berhasil. Beberapa waktu setelah surat saya dibacakan, saya kebanjiran surat dari para sahabat pena yang ingin kenalan. Tak kurang dari 20 surat saya dapatkan setiap minggunya! Karena surat-surat tersebut saya alamatkan ke sekolah, dalam sekejap saya menjadi populer sebagai orang yang menerima banyak surat.

Pengirimnya macam-macam dan berasal dari seluruh penjuru nusantara. Ada teman sebaya, ada kakak kelas, ada TNI yang sedang bertugas di Papua, ada TKI di Malaysia... Isi suratnya pun bervariasi, ada yang ngajak kenalan biasa, ada yang ngajak pacaran, ada yang ngajak arisan jarak jauh... lucu-lucu lah pokoknya. Karena keterbatasan keuangan saya membeli perangko, saya pun terpaksa memilah-milah surat mana yang sebaiknya saya balas. Kalau isi suratnya aneh-aneh dan nggak nyambung ya nggak saya balas.


Naksir-Naksiran dengan Sahabat Pena dan Email yang "Merusak" ^-^
Dari para sahabat pena, beberapa menjalin komunikasi hingga beberapa kali surat menyurat, beberapa terputus begitu saja. Hanya satu dua yng bertahan cukup lama. Bahkan ada yang sampai membuat naksir lho, hihi. Waktu itu ada seorang sahabat pena yang mengaku mahasiswa di Bogor. Tulisannya sangat rapi dan bahasanya juga sangat sopan dan terkesan terpelajar. Meskipun isi surat kami hanya tentang hal-hal keseharian, tapi rasanya sangat menyenangkan. Saya sampai deg-degan kalau menerima surat dari dia. Tapi semua itu kemudian rusak ketika tiba-tiba muncul cara berkomunikasi baru yang lebih canggih: email.

Yah, email. Ketika mulai tren email, karena sahabat pena saya mengaku punya email, saya pun belajar bikin alamat email. Saya berpikir, dengan adanya email, komunikasi kami akan menjadi lebih mudah. Kenyataannya? Kami menjadi semakin jarang berkomunikasi. Surat menyurat menggunakan email memang lebih cepat dan ekonomis, tapi rasanya jauh berbeda dengan surat menyurat menggunakan kertas... dan begitulah, perlahan, komunikasi di antara kami semakin jarang. Dan akhirnya benar-benar putus.

Dan hal itu juga menandai berakhirnya era sahabat-sahabat penaan saya. Dan bisa dibilang era surat menyurat. Satu-satunya surat menyurat yang masih saya lakukan hingga beberapa waktu kemudian adalah dengan orang tua saya. Waktu itu saya melanjutkan sekolah di tempat yang jauh dan orang tua saya tinggal di kampung yang tak kenal apa itu email (waktu itu ponsel masih barang mewah).

Kantor Pos yang semakin ditinggalkan :(

Belakangan, dengan semakin mudahnya komunikasi, surat menyurat benar-benar tak pernah lagi saya lakukan kecuali hal-hal yang bersifat formal (lamaran kerja, dkk). Komunikasi bisa dilakukan setiap saat dengan pesan-pesan pendek dari berbagai penyedia layanan internet yang bisa dibilang gratis. Meskipun kadang-kadang merindukan masa-masa surat menyurat yang terasa romantis dan 'penuh perasaan' itu, tapi saya juga sangat mensyukuri kemajuan teknologi komunikasi saat ini yang tentu saja memudahkan banyak hal. Yah, bagaimanapun, semua  ada jamannya :)***

Friday, 23 January 2015

Kereta Api, Riwayatmu Kini

Saya selalu punya imajinasi romantis yang aneh tentang kereta api. Derak rodanya yang menggilas rel, suara peluit panjang yang mengiringi setiap keberangkatan, sawah dan pepohonan yang berlarian... semua itu terasa romantis dan sentimentil. Meski begitu, aneh bahwa kebanyakan pengalaman nyata naik kereta api saya sebenarnya jauh dari kesan romantis maupun sentimentil. Alih-alih kalau tidak mau dibilang penat dan melelahkan.

Perkenalan pertama saya dengan kereta api ketika saya berumur 9 tahun dalam perjalanan Jogja-Jakarta. Kereta apinya kelas ekonomi. Tak banyak ingatan yang tersisa dari momen itu selain kesan penuh sesak, panas, bau, kumuh dan berisik oleh para pedagang asongan dan peminta-minta.

Setelah itu, lama saya tak pernah naik kereta api lagi hingga sekitar pertengahan tahun 2000-an. Rutenya sama: Jogja-Jakarta. Kali ini, karena dibayari, pilihannya adalah kelas bisnis. Tiketnya Rp. 80.000 atau Rp. 60.000, saya tak terlalu ingat. Tak ada perbedaan mencolok antara kelas ekonomi dan bisnis selain bahwa tempat duduknya sedikit lebih empuk. Namun dari segi suasana kereta api nyaris sama saja: penuh sesak dan berisik oleh pengamen, peminta-minta dan pedagang asongan yang tak pernah berhenti mondar-mandir. Baru merem sejenak sudah ada ewer-ewer mengusik gendang telinga. Bahkan pernah saya sedang tidur dibangunkan dengan kasar oleh seorang pengamen demi meminta recehan. Gondok sekali rasanya.

Berikutnya, saya naik kereta api lagi dalam rangka liburan bersama teman-teman kampus ke Tasikmalaya. Karena liburan ala anak kuliahan ya tentu saja pilihannya lagi-lagi yang paling ekonomis: kelas ekonomi. Tiketnya sangat murah, kurang dari 30 ribu seingat saya. Tak ada teraan tempat duduk, hanya sekeping potongan karton bercap harga. Karenanya, tak pernah ada jaminan bisa duduk kecuali kereta api memang sedang sepi. Sialnya, kami pergi pada musim liburan dan kereta api sangat penuh sesak. Boro-boro mendapat tempat duduk, sekadar tempat berdiri saja susah. Kami harus rela berdesak-desakkan, digeser kesana-kemari karena pedagang asongan dan pengamen yang terus hilir mudik. Minta ampun!

Namun pengalaman yang cukup 'mengerikan' bagi saya adalah ketika suatu hari usai memenuhi undangan wawancara kerja di Jakarta dan pulang naik kereta api. Saya berdua teman saya, sama-sama perempuan, awalnya ingin naik kereta api bisnis tapi ternyata tiketnya habis dan kami tak punya pilihan selain kereta api ekonomi.

Karena akhir pekan, kereta api benar-benar penuh sesak. Karena memang tak ada nomor kursi, kadang ada beberapa penumpang yang dengan tamak menguasai dua kursi sekaligus agar bisa nyaman. Tempat berdiri di sepanjang lorong juga sudah sesak, jadilah saya dan teman saya harus 'rela' mendapat tempat sempit di ruang gandengan antargerbong bersama beberapa penumpang lain. Sebagai alas duduk, kami membentang koran dan jika mengantuk, tidur dalam posisi duduk yang sangat-sangat tidak nyaman. Selesai? Belum. Lagi-lagi kami harus terbangun setiap saat, memiringkan posisi karena setiap kali pedagang asongan lewat, nyaris menginjak kami.

Sepanjang malam kami harus "menikmati" perjalanan seperti itu, dan baru pagi hari, ketika kereta api sampai di sekitar Kebumen akhirnya banyak penumpang turun dan kami bisa duduk di kursi dengan perut yang kembung karena masuk angin. Saat ini, mengenang hal itu terasa lucu, tapi saya juga belum bisa melupakan betapa menyiksanya perjalanan itu.
 

Bangku kereta api kelas ekonomi sekarang yang bersih dan lumayan nyaman

Beberapa tahun belakangan, terjadi perombakan besar-besaran di dunia perkeretapian Indonesia. Awalnya saya tak terlalu percaya mendengar cerita teman-teman yang mengatakan bahwa naik kereta api, apapun kelasnya, saat ini sangat nyaman. Hingga saya mengalaminya sendiri ketika naik kereta api Jogja-Probolinggo kelas ekonomi tahun 2014 lalu dan tertakjub-takjub dibuatnya. Tiketnya 'canggih' lengkap dengan nomor tempat duduk sehingga bisa dipastikan tak akan ada penumpang "bangku tempel". Pemeriksaannya ketat sehingga nyaris tak memberi ruang pencopet menyelinap masuk. Ruang  kereta apinya bersih, dingin oleh AC dan bebas gangguan pedagang asongan atau pengamen.

Di sisi lain, saya juga takjub dengan harganya. Sistem pembeliannya sudah menggunakan sistem pasar ala tiket pesawat yang memungkinkan harganya fluktuatif dan pada satu masa bisa menjadi sangat mahal. Untuk kelas ekonomi, beberapa masih terasa masuk akal, tapi tidak dengan kelas eksekutif yang harganya bahkan kadang mengalahkan atau sama dengan tiket pesawat. Dengan perbandingan durasi perjalanan dan fasilitas, menurut saya harganya benar-benar menjadi mahal. 

Meski begitu, bagaimanapun saya merasa salut dengan PT KAI yang telah berbenah demikian drastis. Tidak hanya kereta apinya, tapi juga stasiun-stasiun yang bersih dan pelayanan yang rapi. Sebagai penumpang (terlepas dari harganya yang kadang masih sulit saya terima), saya merasa nyaman dengan pelayanan kereta api saat ini. Suasana hiruk pikuk gerbong kereta api beberapa tahun lalu memang menjadikan perjalanan penuh warna dan mengesankan, tapi juga seringkali sangat mengganggu. Belum lagi rasa was-was oleh ancaman tangan-tangan jahil yang berkeliaran ketika kita tertidur dan lalai dengan barang-barang kita. Jauh berbeda dengan saat ini.


Untuk perjalanan jauh, rasa penat sulit teralihkan tapi setidaknya saya merasa nyaman karena pasti mendapat tempat duduk. Saya merasa aman karena petugas yang mondar-mandir setiap saat, memastikan keamanan gerbong dan kenyamanan penumpang. Saya juga bisa tidur tenang tanpa keringat bercucuran dan gangguan teriakan  "Spriiit! Akwa! Mijon! Popmiii!..." yang seolah tiada jeda atau ecrek-ecrek para banci kaleng dengan nyanyian sombernya.

Namun, seringkali dalam lamunan saya setiap kali naik kereta api, tak urung saya teringat masa-masa kereta api yang riuh rendah dulu. Betapa murahnya harga tiket kala itu (Jogja-Jakarta hanya sekitar Rp. 40.000), sehingga memungkinkan orang-orang yang kurang secara ekonomi bisa bepergian dengan kereta api. Lalu para pengais rejeki di atas kereta api itu, berapa jumlahnya? Puluhan? Ratusan?  Kemana mereka semua? Jujur, saya tak tahu harus bagaimana dan satu-satunya hal yang mampu saya lakukan hanyalah mendoakan mereka. Semoga mereka baik-baik saja dan mendapat sumber penghidupan yang layak di tempat lain...Amiin! :(

Tuesday, 6 January 2015

Thursday, 25 December 2014

Warna Desember

Desember adalah langit yang kelabu dan hari-hari yang berbasuh hujan,

hari-hari yang kadang terasa panjang dan melenakan
hari-hari ketika kain-kain menumpuk pada tali jemuran, merindukan hangatnya paparan matahari,


Desember adalah warna hijau dari rumput dan dedaunan yang bertumbuh

atau bulir-bulir bening air hujan yang menempel pada kelopak-kelopak bunga yang menguarkan kesegaran bumi

Desember adalah udara yang beraroma semarak oleh libur dan perayaan...

Friday, 19 December 2014

'Keajaiban' Dalam Menonton Film

Saya seorang penikmat film. Setiap minggu, saya selalu menyempatkan diri untuk menonton. Dan saya mendapati bahwa, bahkan dalam menonton film, kadang kita mengalami hal yang unik dan agak ‘ajaib’. Saya ingat dulu semasa masih mengandalkan film-film dari tempat penyewaan, tanpa sengaja meminjam film yang ceritanya memiliki tema yang hampir sama. Padahal saya nggak baca sinopsisnya lho. Dan hal yang sama, saya alami beberapa hari ini, ketika kebetulan saya nonton film–juga tanpa baca sinposisnya terlebih dahulu, kecuali Love Fiction–dan menemukan bahwa film-film yang saya tonton itu benar-benar memiliki tema yang mirip.

Setelah menonton Love Fiction (Korea Selatan, 2012) yang bertemakan penulis yang mengalami writer’s block dan akhirnya menemukan muse-nya, film berikutnya yang masuk list tonton saya adalah film Korea yang lain berjudul “M” (Korea Selatan, 2007). Saya nonton tanpa baca sinopsisnya dan memutuskan nonton semata karena aktor utamanya adalah salah satu aktor favorit saya, Kang Dong-won. Kang disini berperan sebagai Min-woo dan tebak apa profesinya? Penulis novel yang juga tengah mengalami writer’s  block! Nah…

Setelah nonton M, saya berpikir untuk mencari film berbahasa Inggris karena belakangan saya sudah agak jarang nonton  film berbahasa Inggris. Saya ingat teman saya pernah merekomendasikan film ini, Ruby Sparks (AS, 2012). Meski saya tak ingat tentang apa dan belum pernah membaca sinopsisnya, saya memutuskan menonton. Dan, eng ing eng, ternyata Ruby Sparks juga berkisah tentang kehidupan penulis yang mengalami writer’s  block! Whatta coincidence!

Meski ke-3 film itu punya cerita sendiri-sendiri, tapi temanya benar-benar mirip: penulis muda, laki-laki, yang mengalami writer’s  block dan menemukan muse-nya pada diri seorang perempuan! Meski saya tetap berpikir bahwa hal-hal semacam ini hanyalah sebuah kebetulan semata, tapi kadang saya masih merasa ini adalah hal yang sedikit ajaib :) 

Saturday, 1 November 2014

Solilokui untuk Jogja

Saya 'resmi' meninggalkan Jogja sejak sekitar lima tahun lalu. Selama lima tahun itu, sebenarnya saya masih cukup sering menjejakkan kaki di Kota Gudeg, tapi rentang waktunya hanya sebentar-sebentar sehingga tak semua tempat di Jogja bisa sempat saya singgahi. Karena biasanya dari bandara, paling saya hanya melewati antara jalan dari bandara, Jl Solo, sekitaran UGM, Malioboro hingga Jokteng. 

Dan saya menyadari, setiap berkunjung ke kota ini, ada hal-hal yang terus berubah. Bangunan-bangunan baru terus bermunculan. Hotel-hotel megah, pusat-pusat perbelanjaan, kafe-kafe cozy dan sophisticated... jalanan yang semakin padat dan semrawut, udara yang makin panas...Puncaknya, kemarin malam, ketika kebetulan saya 'diajak' muter-muter travel yang saya tumpangi untuk menjemput penumpang ke seputaran ring-road, Jl Magelang-Jombor, saya terperangah. Benarkah ini Jogja? Dimulai dari sekitar Monjali, adalah Taman Pelangi yang dihiasi banyak lampion temaram dan food court. Oke, saya pikir ini perkembangan bagus karena selama ini Monjali hanyalah sebuah monumen yang kering. Berikutnya,adalah flyover Jombor yang tampak gagah...dan saya benar-benar ternganga ketika sampai di Jl Magelang: sebuah bangunan megah berdiri menjulang: Jogja City Mall. Apakah saya benar-benar sedang berada di Jogja?

Jogja dari puncak Taman Sari, 2008

Belakangan, saya membaca kalau selain Jogja City Mall, yang konon digadang sebagai pusat perbelanjaan terbesar di Jogja dan Jawa Tengah, akan segera hadir pula 4 pusat perbelanjaan lainnya: Sahid Jogya Lifestyle di Babarsari, Lippo Mall Saphir di Jl Laksda Adisucipto (eks Saphir Square), dan Hartono Lifestyle Mall di Ring Road Utara. Kehadiran mall-mall baru itu akan menambah mall-mall yang sudah ada di Jogja sebelumnya, yakni Galeria Mall, Malioboro Mall dan Ambarukmo Plaza.

Saya tidak terlalu paham apakah semua pembangunan itu berdampak baik atau buruk. Hanya saja, selama ini saya selalu merasa Jogja itu bersahaja, tenang dan cenderung 'ndeso'  dengan slogan "Jogja berhati Nyaman" yang menurut saya (dulu) sangat pas untuk menggambarkan Jogja. Dan melihat semua perubahan itu, saya benar-benar merasa agak syok. Saya tak hendak beromantisem dan meratapi perubahan. Perubahan adalah hal yang mutlak dan tidak selalu buruk (dan saya harap semua perubahan itu memang bukan sesuatu yang buruk). Bahwa Jogja semakin 'maju', 'modern' dan metropolis, meski dengan agak berat hati, saya pikir itu hal yang tak bisa dicegah dan mungkin juga sesuatu yang bagus. Saya melihat dari waktu ke waktu, Jogja semakin ramai dikunjungi wisatawan. Pastilah itu perkembangan yang bagus untuk bisnis pariwisata dan saya turut bangga karenanya.

Pasar Beringharjo tahun 1910. Bagaimana ya rasanya hidup di Jogja pada masa itu? (sumber gambar: tembi.net)

Tapi saya juga tak bisa untuk tak risau ketika membaca berbagai berita tentang pembangunan hotel yang gila-gilaan dan dampaknya terhadap lingkungan. Bayangkan jika konon satu kamar hotel memerlukan 380 liter air (sementara satu rumah tangga hanya sekitar 300 liter air). Sementara jumlah hotel di Jogja pada tahun 2013 adalah 401, dimana 39 hotel berbintang dan sisanya non bintang (sumber: http://regional.kompas.com/, "Sultan HB X Kendalikan Pembangunan Hotel"). Jika satu hotel saja memiliki setidaknya 20 kamar bisa dibayangkan kan kebutuhan airnya? Dan bisa dipastikan siapa yang harus "mengalah" dalam hal ini.  

Belum lagi pembuangan limbah dan kebutuhan lahan parkir.Bukan apa-apa, Jogja itu kota kecil secara luasan. Bahkan seluruh provinsi Jogja bisa dikitari dalam waktu satu hari. Tanpa bangunan-bangunan baru itu saja selama ini Jogja sudah padat dengan penduduknya. Dengan adanya bangunan-bangunan baru itu, tentu saja Jogja akan semakin berdesakan, 'uyel-uyelan', ruang hijau yang makin terbatas dan mungkin di ujung-ujung adalah ketergusuran. Bisa ditebak kan siapa yang bakal tergusur dalam kasus seperti ini? Hmm, mudah-mudahan saja tidak sampai seperti itu. Saya selalu positive thinking bahwa Jogja dihuni oleh orang-orang cerdas dan kreatif  (termasuk para pejabat daerahnya) yang tak akan membiarkan kotanya berubah menjadi kota yang 'menyedihkan' dan "Tak Berhati Nyaman". Semoga saja begitu...

(selepas dari Jogja, 29 Oktober 2014)