Showing posts with label good movie. Show all posts
Showing posts with label good movie. Show all posts

Friday, 19 December 2014

'Keajaiban' Dalam Menonton Film

Saya seorang penikmat film. Setiap minggu, saya selalu menyempatkan diri untuk menonton. Dan saya mendapati bahwa, bahkan dalam menonton film, kadang kita mengalami hal yang unik dan agak ‘ajaib’. Saya ingat dulu semasa masih mengandalkan film-film dari tempat penyewaan, tanpa sengaja meminjam film yang ceritanya memiliki tema yang hampir sama. Padahal saya nggak baca sinopsisnya lho. Dan hal yang sama, saya alami beberapa hari ini, ketika kebetulan saya nonton film–juga tanpa baca sinposisnya terlebih dahulu, kecuali Love Fiction–dan menemukan bahwa film-film yang saya tonton itu benar-benar memiliki tema yang mirip.

Setelah menonton Love Fiction (Korea Selatan, 2012) yang bertemakan penulis yang mengalami writer’s block dan akhirnya menemukan muse-nya, film berikutnya yang masuk list tonton saya adalah film Korea yang lain berjudul “M” (Korea Selatan, 2007). Saya nonton tanpa baca sinopsisnya dan memutuskan nonton semata karena aktor utamanya adalah salah satu aktor favorit saya, Kang Dong-won. Kang disini berperan sebagai Min-woo dan tebak apa profesinya? Penulis novel yang juga tengah mengalami writer’s  block! Nah…

Setelah nonton M, saya berpikir untuk mencari film berbahasa Inggris karena belakangan saya sudah agak jarang nonton  film berbahasa Inggris. Saya ingat teman saya pernah merekomendasikan film ini, Ruby Sparks (AS, 2012). Meski saya tak ingat tentang apa dan belum pernah membaca sinopsisnya, saya memutuskan menonton. Dan, eng ing eng, ternyata Ruby Sparks juga berkisah tentang kehidupan penulis yang mengalami writer’s  block! Whatta coincidence!

Meski ke-3 film itu punya cerita sendiri-sendiri, tapi temanya benar-benar mirip: penulis muda, laki-laki, yang mengalami writer’s  block dan menemukan muse-nya pada diri seorang perempuan! Meski saya tetap berpikir bahwa hal-hal semacam ini hanyalah sebuah kebetulan semata, tapi kadang saya masih merasa ini adalah hal yang sedikit ajaib :) 

Friday, 22 November 2013

Lubang

Apao seorang bocah lelaki yang cerdas. Dan seperti bocah pada umumnya, ia menginginkan orangtuanya utuh. Tapi ayahnya melarat dan ibunya tak tahan hidup susah. Bagaimanapun ia berusaha mencegah, ibunya akhirnya kabur juga ketika ia dan ayahnya sedang liburan. Kepergian ibunya membuat ayahnya terpuruk. Ia malah mabuk-mabukan, pekerjaannya kacau dan dikejar-kejar penagih hutang. Apao terus meminta ayahnya mencari ibunya dan ketika ayahnya mulai acuh, ia berusaha mencari sendiri. Ia mendapati ibunya sudah hidup nyaman dan tengah hamil pula. Ia merasa diabaikan. Karenanya, daripada hidup nyaman dengan ibunya, ia memilih kembali pada ayahnya yang melarat.

Ayahnya hidup dalam keterpurukan yang kian dalam dan ketika uang sudah ludes, sang  ayah menyuruh Apao mencuri. Selalu gagal dan akhirnya ditangkap polisi. Ketika ia minta tolong, ayahnya tak datang menolong. Ia pun masuk penjara. Ketika sang ayah datang membesuk dengan segala penyesalan, ia marah dan menggigit telinganya.  Sang anak pun hidup dengan lubang menganga. Untunglah, itu cuma di film. After this Our Exile (2006). Film yang besutan sutradara Patrick Tam dan dibintangi Aaron Kwok ini terasa begitu menyesakkan. Tapi bukankah dalam kehidupan nyata juga begitu banyak anak yang hidup dengan lubang menganga? Dan kenyataan bahwa aku tidak termasuk di antaranya, membuatku merasa bersyukur. Betapa tidak nyamannya hidup dengan lubang seperti itu. Lubang luka yang acapkali menjadi tempat berbiaknya bermacam sakit: amarah, dendam, kecewa, benci...