pemberhentian menuju open air museum. thanks horst.
Showing posts with label jalanjalan. Show all posts
Showing posts with label jalanjalan. Show all posts
Saturday, 10 October 2009
freiburg: weinfest

beberapa hari di freiburg, michael mengajak kami ke weinfest. festival wine di daerah pinggiran freiburg. awalnya tak terlalu tertarik karena dia yang mengajak. tapi tak ingin terkesan tak menghargai didukung rasa penasaran, kami pun memutuskan pergi: aku, sita, devi, kaka, edo, vera dan michael. sore kami berangkat dengan kereta. mungkin sekitar satu jam perjalanan sebelum kami turun di stasiun kecil nan lengang. festival anggur adalah saat orang-orang mengeluarkan persediaan anggur mereka dan orang-orang boleh mencicipi anggur terbaik dengan harga murah. masih lengang waktu kami datang. orang-orang membuka stan di sepanjang jalan. tenda-tenda kecil dengan tabung-tabung anggur, dan deretan gelas di meja. segelas harganya 2 euro plus gelas 1 euro. dengan gelas di tangan, kita bisa berkeliling, mencicipi anggur yang kita suka. awalnya tak yakin aka mencoba tapi karena yang lain mencoba akhirnya ikut mencoba. segelas anggur putih dingin. ini pertama kalinya mencicipi anggur. terasa membakar di tenggorokan. tapi hangat dan nikmat. kami berkeliling sambil membawa gelas di tangan tanpa tertarik mencoba anggur yang lain. di ujung stan, ada semacam pertunjukan. sirkus atau apalah. segelas anggur sudah tandas. tiba-tiba aku merasa melayang. mabuk? masa segelas anggur bikin mabuk. aku terus mencoba mengontrol kesadaranku. mabuk sungguh memalukan. untung serangan itu cuma sejenak. udara semakin dingin. dan entah bagaimana kami tercerai berai. aku, sita, devi dan kaka. michael yang sedianya jadi guide kami menghilang entah kemana bersama vera dan edo. jengkel, kami memutuskan untuk pulang. di halte, menunggu kereta agak lama. mendapati dua lelaki mabuk tertawa-tawa. sepanjang jalan kepalaku terasa sangat pusing. pulang, aku tertidur. pulas sekali. esok paginya aku terbangun dengan kepala yang masih terasa pusing. tapi satu hal kusesali, kenapa aku tak mencoba lebih banyak anggur kemarin?
strassbourg, suatu hari

ngebet pengin ke perancis. sedikit iri sama beberapa teman yang sudah ke sana. akhirnya memutuskan untuk pergi. bareng anke dan moritz. devi, m'sita dan aku. minggu pagi. naik mobil merah kap terbuka, diiringi lagu california. langit biru cerah musim panas di atas kami. hamparan hijau ladang gandum. menyeberangi perbatasan yang hanya dipisahkan sebentang sungai dan jembatan. welcome to perancis. perancis? aneh rasanya sudah menginjakkan kaki di negara yang berbeda yang secara topografi nyaris tak berbeda.
di dekat perbatasan, anke ngajak mampir ke supermarket. daging di sini lebih murah. katanya. anggur juga. mari belanja dulu. kami hanya melihat-lihat.
perjalanan diteruskan. jalan lurus, halus mulus nan lengang. hijau di kanan kiri jalan. kastil-kastil coklat di bukit-bukit kejauhan. dan, strassbourg. markas uni eropa. kotanya terlihat tua dan suram dengan trem dan bus berwarna suram. freiburg jauh lebih hidup, ujar kami.
kita akan mengunjungi gedung uni eropa. kata anke. kami berputar-putar di tengah kota. tak juga menemukan si gedung. tanya sana-tanya sini. tetap berputar-putar. lelah, akhirnya anke berujar, kita ke katedral dulu saja. kami berputar mencari tempat parkir. sebuah ruang bawah tanah di tengah-tengah lapangan kota. pengap, panas dan membuat pusing. mungkin ada 3 tingkat dan setiap ruang nyaris sama dengan entah berapa mobil di dalamnya.
kami keluar lewat pintu kecil, dan muncul tepat di sehampat lapangan tempat orang-orang muda duduk-duduk dan mengobrol. aku membayangkan suasana malam yang hangat di sana. sebentar kami mampir di semacam galeri seni yang memajang karya-karya kontemporer anak-anak. sebelum akhirnya sampai ke katedral yang menjulang. megah dan antik. sedang tak ada misa. ruangan yang megah terlihat lengang. patung-patung, ornamen-ornamen, kursi-kursi kayu yang hitam mengkilat. berapa umur bangku-bangku itu? ratusan tahun? berapa generasi manusia telah mendudukinya? sebagian mereka telah mati. dan bangku-bangku itu masih tegak berdiri. abadi.
aku sedikit terkejut membaca tulisan: katedral notre-dame. teringat victor hugo yang menulis si bungkuk dari notre-dame. aku membayangkan si tokoh yang menulis dari atas menara gereja. aku membayangkan hidup pada masa karya itu ditulis.
foto-foto, kami belanja souvenir di depan katedral. piring-piring pajangan, kartu pos...tak ada yang terlalu istimewa. perut lapar dan kami kelayapan mencari tempat makan. kafe-kafe memajang harga menu di pintu depan. tak ada yang kurang dari 7 euro. bukan harga yang murah. kami berjalan di sepanjang pinggir sungai dengan kanal-kanalnya. rumah-rumah kayu penuh bunga warna merah yang bermekaran. strassbourg, terasa santai dan bersahaja. tapi kenapa makanannya kurang bersahaja?
anke mulai ngedumel karena kelaparan. moritz mengeluarkan bekal. 5 potong sandwich yang ia buat sendiri. kami merasa terharu. kami sama sekali tak memikirkan hal seperti itu. tapi sepotong sandwich kurang cukup mengganjal perut kami. lapar masih menggerogoti.
kami memutuskan kembali ke tempat parkir. tapi moritz disorientasi. kami lebih-lebih lagi. anke marah-marah karena panik. itu mobil ayahnya. kalau hilang adalah bencana. moritz mencari dalam diam. kami menunggu dengan deg-degan. sekitar setengah jam, baru ketemu. kita pulang saja ya. ujar anke. kami serempak mengangguk. ya. lain kali saja melihat kantor uni eropa. ya. dan kami pun pulang. badan terasa letih. tapi setidaknya kami telah menginjakkan kaki di perancis. hal yang bisa jadi bahan cerita:)
kembali ke freiburg. sore yang cerah dan terasa indah. sungguh, musim panas terasa sorga. kembali ke flat, mendapati marie dan jochen. kami ke strassbourg. ke katedral notre-dame, tempat victor hugo. marie tertawa. bukan itu katedralnya. notre-dame victor hugo ada di paris. oogh...sedikit malu. tapi strassbourg kota yang menyenangkan, bukan? rileks. hmm. aku jauh lebih suka freiburg, ujarku. freiburg terasa lebih hidup dan berwarna. giliran marie yang mengerutkan kening. oogh..'
Sunday, 30 August 2009
Menjelajah Sinabung
Setelah sekian lama memendamnya, akhirnya keinginan untuk mendaki gunung itu kesampaian juga. Tidak beruntung bersekolah di sekolah ‘favorit’dengan kegiatan ekstra-kurikuler yang canggih, memaksa kami untuk melakukan banyak hal dengan inisiatif sendiri. Dan itulah yang kami lakukan. Kami berenam—aku, Bertha, Elida, Hotma, Rory dan Tina ditambah seorang teman lagi, Lela. Semuanya cewek. Sebagai umumnya banyak anak sekolah menengah, kami membuat semacam geng. Suka mencoba hal-hal baru, mungkin itu yang menyatukan kami meski sifat dasar kami banyak memiliki perbedaan.
Awalnya, kami merasa begitu sebal setiap kali teman-teman cowok kami bercerita seru sepulang dari naik gunung. Berulang kali kami meminta agar mereka mengajak kami jika suatu saat nanti akan naik gunung lagi. Dan meski mereka selalu mengatakan “iya” tapi kenyataannya mereka sepertinya tidak pernah serius menanggapi permintaan kami. Barangkali, mereka berpikir, membawa para cewek ketika naik gunung hanya akan merepotkan saja di perjalanan. Oke, merasa sebal sekaligus penasaran, akhirnya kami nekat memutuskan untuk naik gunung sendiri. Tokh informasi utama seperti bagaimana jalan ke sana, naik bus apa dan sebagainya sedikit banyak kami kuasai karena beberapa dari kami berasal dari daerah yang tak jauh dari gunung-gunung tersebut. Bertha dan Lela misalnya, berasal dari Kabajahe, kota kecil di dekat Berastagi.
Ada dua gunung yang terkenal di Medan, Sinabung dan Sibayak. Karena bentuknya yang mirip, kedua gunung itu disebut-sebut sebagai gunung kembar meski memiliki ketinggian yang berbeda. Gunung Sibayak setinggi 2212 meter dan Gunung Sinabung 2451 meter. Selain lebih tinggi, Gunung Sinabung juga terkenal dengan medannya yang masih sulit. Terjal dan jalannya masih berupa setapak. Berbeda dengan Sibayak yang lebih landai dan sudah terdapat fasilitas jalan raya sampai mendekati puncak.
Setelah memperhitungkan biaya segala macam, pada suatu akhir pekan kami akhirnya memutuskan untuk berangkat naik gunung. Karena kami merasa tak percaya diri tak mempunyai pengalaman naik gunung sama sekali, kami meminta bantuan seorang teman cowok untuk menemani kami. Karena teman cowok ini juga tak berpengalaman dalam hal naik gunung, ia meminta temannya yang konon memang ‘jago gunung’ untuk menemani kami. Namanya Bangun. Mungkin kedengaran aneh, tapi di tanah Batak, nama-nama semacam itu adalah sesuatu yang lazim. Sepertinya, banyak orang tua yang menamai anaknya sesuai dengan apa yang ia lihat atau apa yang dia alami ketika hamil atau melahirkan. Tak jarang kita mendengar seorang bernama Gunting Sitepu, Jatuh Bangun dan sebagainya.
Kami belum pernah bertemu Bangun sebelumnya, jadi kami agak kaget sewaktu ia datang menemui kami dan mengatakan bahwa ia disuruh teman cowok kami untuk menemani kami. Lalu ia bertanya, kemana kami akan naik, Sibayak atau Sinabung? Meski kami sudah sering mendengar berbagai informasi tentang kedua gunung itu, kami tak tahu mana yang sebaiknya kami daki. Sibayak memang lebih mudah, tapi Sinabung lebih menarik, katanya. Dan akhirnya kami menuruti sarannya.
Peralatan kami begitu alakadarnya: tas ransel kecil berisi beberapa bungkus roti, beberapa botol air mineral, senter dan baju hangat. Hanya itu yang kami bawa. Sama sekali tak terpikirkan untuk membawa tenda dan perlengkapan mendaki lainnya. Sudah kubilang, kami sama sekali tak berpengalaman.
Menjelang senja kami berangkat. Pertama, kami menuju terminal bus yang akan membawa kami ke Berastagi. Sempat terjebak macet di beberapa sudut kota karena seperti di kebanyakan kota, pada akhir pekan jalan raya begitu padat. Orang-orang berkendaraan tumpah ruah seperti laron yang muncul sehabis turun hujan. Heran kadang melihat keriuh-rendahan semacam itu.
Hari sudah gelap saat kami sampai di terminal. Dan…ya ampun, kami benar-benar tak menyangka orang berjubel sebanyak itu berebut bus. Setiap kali bus datang, segera saja orang-orang berlarian menyerbu masuk. Kebanyakan orang-orang muda dengan menggendong ransel besar, mahasiswa atau anak sekolahan seperti kami. Sudah bisa ditebak, mereka akan naik gunung seperti kami atau sekadar berkemah di sekitar Sibolangit—sebuah kawasan hutan di dekat Berastagi. Agaknya, akhir pekan memang selalu menjadi momen yang tepat untuk melepaskan diri dari berbagai kepenatan rutinitas hidup di kota.
Beberapa bus datang dan pergi dan kami belum juga mendapatkan bus karena selalu kalah berebut. Baru setelah beberapa waktu lewat, kami akhirnya mendapat tempat. Meski begitu, kami harus ‘rela’ duduk di atap bus karena memang ruang duduk di dalam sudah penuh. Ini juga pengalaman pertama naik di atap bus. Awalnya merasa ngeri tapi setelah beberapa lama kami justru menikmatinya. Kami bisa menjerit atau tertawa keras-keras setiap kali bus berbelok di jalanan menikung atau memiring tajam di jalan mendaki. Hembusan angin malam yang langsung mengenai wajah kami, meski terasa dingin, tapi juga menghadirkan rasa sejuk yang menyenangkan.
Perjalanan dari Medan ke Berastagi memakan waktu sekira dua jam. Semarak kota Berastagi menyambut kami. Meski terkenal sebagai kota dingin, tapi suasana Berastagi di waktu malam terasa hangat. Terutama di akhir pekan. Kedai-kedai dan toko-toko kecil yang berada di kanan kiri jalan terlihat ramai. Wajar, Berastagi adalah kota wisata. Tak hanya wistawan dome, banyak juga wisatawan asing yang berkunjung ke kota ini. Udaranya yang segar dan pemandangan alam yang indah menjadi daya tarik utamanya. Pada waktu-waktu tertentu, sering diadakan berbagai pertunjukan di panggung terbuka yang berada di tengah-tengah kota. Pesta buah diadakan sekali setahun. Pada kesempatan ini, berbagai kesenian dan makanan tradisional disajikan.
Bangun mengajak kami ke terminal bus yang akan membawa kami ke Lau Kawar, desa di kaki Gunung Sinabung. Ketika kami sampai di terminal kecil yang terletak di dekat pasar, ternyata sudah tidak ada lagi kendaraan. Agaknya kami sudah terlambat. Untunglah, kemudian ada dua orang bapak-bapak membawa pick up yang bersedia mengantar kami, setelah melalui tawar menawar harga tentunya.
Mobil melaju kencang di jalanan yang tak terlalu mulus, melewati kebun-kebun jeruk dan sayuran yang sepi dan gelap. Sesekali nyala terang terlihat dari rumah-rumah penduduk. Begitu kencang mobil itu melaju sampai kami terguncang-guncang dengan kerasnya. Begitu mobil berhenti, telinga terasa budeg dan kulit wajah seakan mati rasa diserbu dingin.
Sudah sekitar jam 10 ketika kami sampai di Lau Kawar. Nama Lau Kawar berasal dari nama danau kecil yang berada tepat di kaki Gunung Sinabung. Airnya berkilauan ditimpa kerlip cahaya lampu. Tenda-tenda putih tersebar di tanah lapang di sekitar danau. Sayup-sayup terdengar denting gitar dan alunan lagu, kadang juga tawa dan suara obrolan. Dingin menyergap. Bangun menghilang sejenak. Di kemudian waktu, kami tahu ia ternyata pergi ke danau. Konon, ada semacam mitos untuk meminum air danau itu ketika datang ke sana. Apa fungsi dan manfaatnya, aku kurang tahu. Lagipula, kupikir aku tak akan melakukannya karena meski terlihat jernih, air danau itu agaknya tak terlalu bersih. Orang-orang tak tahu diri sering membuang sampah di sana. Butir-butir nasi dan jenis sampah lainnya terlihat mengapung di pinggir danau. Sungguh sayang sebenarnya, mengingat keindahan danau itu menurutku juga luar biasa. Pada siang hari, airnya terlihat berwarna kelabu dengan pantulan hijau warna pepohonan yang tumbuh di tepiannya.
Kami beristirahat di sebuah warung kecil tak jauh dari danau. Untuk menghangatkan badan, kami memesan teh hangat dan sebagian memesan mi instan rebus. Aku belum makan sedari siang dan aku merasa lapar, tapi hanya itu pilihan makanan yang ada. Apa boleh buat.
Sekitar jam 12 kami berangkat. Bangun mendongak ke atas dan terlihat puncak gunung menjulang. Cuaca cukup cerah. Di shelter pertama, kami bertemu dengan serombongan pendaki lain yang akhirnya bergabung dengan kami. Mereka mahasiswa USU. Bertemu dengan mereka, memberi keuntungan bagi kami karena satu per satu senter kami mati padahal perjalanan baru dimulai.
Kami terus berjalan, sesekali terdengar celetukan yang mengundang tawa, tapi lebih banyak diliputi hening. Hanya dengus nafas memburu yang terdengar. Jalan yang kami lewati adalah jalan setapak, becek dan berlumpur dililiti akar-akar kayu silang sengkarut yang sesekali memaksa kami berjalan ekstra hati-hati. Ketika sampai di jalanan mendaki, kami mulai merasa kewalahan. Lela yang nekat bercelana pendek dan bersendal jepit terserang kram kaki, Hotma dan Tina mulai kelelahan. Bangun dengan gesit membantu, juga beberapa teman baru kami. Aku juga merasa capek, tapi entah kenapa, aku punya semangat luar biasa yang membisikiku untuk terus berjalan. Aku begitu yakin bahwa aku bisa menyelesaikannya sendiri.
Sesekali kami berhenti, menenggak air mineral atau menikmati makanan kecil yang kami bawa. Deru angin bergemuruh disertai suara berbagai penghuni hutan terdengar lamat-lamat. Juga teriakan-teriakan para pendaki lain, baik yang di atas maupun di bawah kami. Aku menatapi dedaunan yang berkeriap-keriap di atas kami dan merasa bahwa keheningan itu tak terlalu menakutkan.
Menjelang puncak, medan lebih sulit karena berupa cadas yang terjal. Untuk melewatinya, kami harus sering merangkak mencari-cari pegangan. Jika kami terpeleset sedikit saja, di bawah kami, jurang menganga siap menerima kami. Mengerikan sekali!
Kami terus merangkak, mengulurkan tangan untuk saling membantu. Suara gemuruh angin terdengar kian riuh. Cahaya bulan bersinar redup, menelusup di antara gumpalan-gumpalan awan berwarna kelabu. Tanganku sudah terasa perih oleh goresan-goresan dan lecet. Tak ada sarung tangan untuk melindunginya. Di bawah sana, di antara bayangan gelap, terlihat kerlip lampu-lampu. Aku membayangkan, pasti penghuninya tengah lelap dibuai mimpi. Aku membayangkan kamar yang hangat… Aku berpikir, kenapa orang mau bersusah payah melakukan hal sulit semacam ini, termasuk juga diriku? Tapi entah kenapa, aku tak merasa pantas untuk mengeluh, apalagi menyesalinya.
Menjelang subuh kami sampai di puncak. Sulit sekali menggambarkan perasaanku begitu melihat cahaya merah di ufuk barat, matahari yang seakan keluar dari batas langit. Luar biasa! Belum lagi putih awan-awan di bawah kami. Aku teringat sebuah lagu berjudul Negeri di Awan dan aku merasa itulah negeri yang dimaksud lagu itu. Negeri di awan. Ya, kami sedang berada di negeri awan!
Awalnya, kami merasa begitu sebal setiap kali teman-teman cowok kami bercerita seru sepulang dari naik gunung. Berulang kali kami meminta agar mereka mengajak kami jika suatu saat nanti akan naik gunung lagi. Dan meski mereka selalu mengatakan “iya” tapi kenyataannya mereka sepertinya tidak pernah serius menanggapi permintaan kami. Barangkali, mereka berpikir, membawa para cewek ketika naik gunung hanya akan merepotkan saja di perjalanan. Oke, merasa sebal sekaligus penasaran, akhirnya kami nekat memutuskan untuk naik gunung sendiri. Tokh informasi utama seperti bagaimana jalan ke sana, naik bus apa dan sebagainya sedikit banyak kami kuasai karena beberapa dari kami berasal dari daerah yang tak jauh dari gunung-gunung tersebut. Bertha dan Lela misalnya, berasal dari Kabajahe, kota kecil di dekat Berastagi.
Ada dua gunung yang terkenal di Medan, Sinabung dan Sibayak. Karena bentuknya yang mirip, kedua gunung itu disebut-sebut sebagai gunung kembar meski memiliki ketinggian yang berbeda. Gunung Sibayak setinggi 2212 meter dan Gunung Sinabung 2451 meter. Selain lebih tinggi, Gunung Sinabung juga terkenal dengan medannya yang masih sulit. Terjal dan jalannya masih berupa setapak. Berbeda dengan Sibayak yang lebih landai dan sudah terdapat fasilitas jalan raya sampai mendekati puncak.
Setelah memperhitungkan biaya segala macam, pada suatu akhir pekan kami akhirnya memutuskan untuk berangkat naik gunung. Karena kami merasa tak percaya diri tak mempunyai pengalaman naik gunung sama sekali, kami meminta bantuan seorang teman cowok untuk menemani kami. Karena teman cowok ini juga tak berpengalaman dalam hal naik gunung, ia meminta temannya yang konon memang ‘jago gunung’ untuk menemani kami. Namanya Bangun. Mungkin kedengaran aneh, tapi di tanah Batak, nama-nama semacam itu adalah sesuatu yang lazim. Sepertinya, banyak orang tua yang menamai anaknya sesuai dengan apa yang ia lihat atau apa yang dia alami ketika hamil atau melahirkan. Tak jarang kita mendengar seorang bernama Gunting Sitepu, Jatuh Bangun dan sebagainya.
Kami belum pernah bertemu Bangun sebelumnya, jadi kami agak kaget sewaktu ia datang menemui kami dan mengatakan bahwa ia disuruh teman cowok kami untuk menemani kami. Lalu ia bertanya, kemana kami akan naik, Sibayak atau Sinabung? Meski kami sudah sering mendengar berbagai informasi tentang kedua gunung itu, kami tak tahu mana yang sebaiknya kami daki. Sibayak memang lebih mudah, tapi Sinabung lebih menarik, katanya. Dan akhirnya kami menuruti sarannya.
Peralatan kami begitu alakadarnya: tas ransel kecil berisi beberapa bungkus roti, beberapa botol air mineral, senter dan baju hangat. Hanya itu yang kami bawa. Sama sekali tak terpikirkan untuk membawa tenda dan perlengkapan mendaki lainnya. Sudah kubilang, kami sama sekali tak berpengalaman.
Menjelang senja kami berangkat. Pertama, kami menuju terminal bus yang akan membawa kami ke Berastagi. Sempat terjebak macet di beberapa sudut kota karena seperti di kebanyakan kota, pada akhir pekan jalan raya begitu padat. Orang-orang berkendaraan tumpah ruah seperti laron yang muncul sehabis turun hujan. Heran kadang melihat keriuh-rendahan semacam itu.
Hari sudah gelap saat kami sampai di terminal. Dan…ya ampun, kami benar-benar tak menyangka orang berjubel sebanyak itu berebut bus. Setiap kali bus datang, segera saja orang-orang berlarian menyerbu masuk. Kebanyakan orang-orang muda dengan menggendong ransel besar, mahasiswa atau anak sekolahan seperti kami. Sudah bisa ditebak, mereka akan naik gunung seperti kami atau sekadar berkemah di sekitar Sibolangit—sebuah kawasan hutan di dekat Berastagi. Agaknya, akhir pekan memang selalu menjadi momen yang tepat untuk melepaskan diri dari berbagai kepenatan rutinitas hidup di kota.
Beberapa bus datang dan pergi dan kami belum juga mendapatkan bus karena selalu kalah berebut. Baru setelah beberapa waktu lewat, kami akhirnya mendapat tempat. Meski begitu, kami harus ‘rela’ duduk di atap bus karena memang ruang duduk di dalam sudah penuh. Ini juga pengalaman pertama naik di atap bus. Awalnya merasa ngeri tapi setelah beberapa lama kami justru menikmatinya. Kami bisa menjerit atau tertawa keras-keras setiap kali bus berbelok di jalanan menikung atau memiring tajam di jalan mendaki. Hembusan angin malam yang langsung mengenai wajah kami, meski terasa dingin, tapi juga menghadirkan rasa sejuk yang menyenangkan.
Perjalanan dari Medan ke Berastagi memakan waktu sekira dua jam. Semarak kota Berastagi menyambut kami. Meski terkenal sebagai kota dingin, tapi suasana Berastagi di waktu malam terasa hangat. Terutama di akhir pekan. Kedai-kedai dan toko-toko kecil yang berada di kanan kiri jalan terlihat ramai. Wajar, Berastagi adalah kota wisata. Tak hanya wistawan dome, banyak juga wisatawan asing yang berkunjung ke kota ini. Udaranya yang segar dan pemandangan alam yang indah menjadi daya tarik utamanya. Pada waktu-waktu tertentu, sering diadakan berbagai pertunjukan di panggung terbuka yang berada di tengah-tengah kota. Pesta buah diadakan sekali setahun. Pada kesempatan ini, berbagai kesenian dan makanan tradisional disajikan.
Bangun mengajak kami ke terminal bus yang akan membawa kami ke Lau Kawar, desa di kaki Gunung Sinabung. Ketika kami sampai di terminal kecil yang terletak di dekat pasar, ternyata sudah tidak ada lagi kendaraan. Agaknya kami sudah terlambat. Untunglah, kemudian ada dua orang bapak-bapak membawa pick up yang bersedia mengantar kami, setelah melalui tawar menawar harga tentunya.
Mobil melaju kencang di jalanan yang tak terlalu mulus, melewati kebun-kebun jeruk dan sayuran yang sepi dan gelap. Sesekali nyala terang terlihat dari rumah-rumah penduduk. Begitu kencang mobil itu melaju sampai kami terguncang-guncang dengan kerasnya. Begitu mobil berhenti, telinga terasa budeg dan kulit wajah seakan mati rasa diserbu dingin.
Sudah sekitar jam 10 ketika kami sampai di Lau Kawar. Nama Lau Kawar berasal dari nama danau kecil yang berada tepat di kaki Gunung Sinabung. Airnya berkilauan ditimpa kerlip cahaya lampu. Tenda-tenda putih tersebar di tanah lapang di sekitar danau. Sayup-sayup terdengar denting gitar dan alunan lagu, kadang juga tawa dan suara obrolan. Dingin menyergap. Bangun menghilang sejenak. Di kemudian waktu, kami tahu ia ternyata pergi ke danau. Konon, ada semacam mitos untuk meminum air danau itu ketika datang ke sana. Apa fungsi dan manfaatnya, aku kurang tahu. Lagipula, kupikir aku tak akan melakukannya karena meski terlihat jernih, air danau itu agaknya tak terlalu bersih. Orang-orang tak tahu diri sering membuang sampah di sana. Butir-butir nasi dan jenis sampah lainnya terlihat mengapung di pinggir danau. Sungguh sayang sebenarnya, mengingat keindahan danau itu menurutku juga luar biasa. Pada siang hari, airnya terlihat berwarna kelabu dengan pantulan hijau warna pepohonan yang tumbuh di tepiannya.
Kami beristirahat di sebuah warung kecil tak jauh dari danau. Untuk menghangatkan badan, kami memesan teh hangat dan sebagian memesan mi instan rebus. Aku belum makan sedari siang dan aku merasa lapar, tapi hanya itu pilihan makanan yang ada. Apa boleh buat.
Sekitar jam 12 kami berangkat. Bangun mendongak ke atas dan terlihat puncak gunung menjulang. Cuaca cukup cerah. Di shelter pertama, kami bertemu dengan serombongan pendaki lain yang akhirnya bergabung dengan kami. Mereka mahasiswa USU. Bertemu dengan mereka, memberi keuntungan bagi kami karena satu per satu senter kami mati padahal perjalanan baru dimulai.
Kami terus berjalan, sesekali terdengar celetukan yang mengundang tawa, tapi lebih banyak diliputi hening. Hanya dengus nafas memburu yang terdengar. Jalan yang kami lewati adalah jalan setapak, becek dan berlumpur dililiti akar-akar kayu silang sengkarut yang sesekali memaksa kami berjalan ekstra hati-hati. Ketika sampai di jalanan mendaki, kami mulai merasa kewalahan. Lela yang nekat bercelana pendek dan bersendal jepit terserang kram kaki, Hotma dan Tina mulai kelelahan. Bangun dengan gesit membantu, juga beberapa teman baru kami. Aku juga merasa capek, tapi entah kenapa, aku punya semangat luar biasa yang membisikiku untuk terus berjalan. Aku begitu yakin bahwa aku bisa menyelesaikannya sendiri.
Sesekali kami berhenti, menenggak air mineral atau menikmati makanan kecil yang kami bawa. Deru angin bergemuruh disertai suara berbagai penghuni hutan terdengar lamat-lamat. Juga teriakan-teriakan para pendaki lain, baik yang di atas maupun di bawah kami. Aku menatapi dedaunan yang berkeriap-keriap di atas kami dan merasa bahwa keheningan itu tak terlalu menakutkan.
Menjelang puncak, medan lebih sulit karena berupa cadas yang terjal. Untuk melewatinya, kami harus sering merangkak mencari-cari pegangan. Jika kami terpeleset sedikit saja, di bawah kami, jurang menganga siap menerima kami. Mengerikan sekali!
Kami terus merangkak, mengulurkan tangan untuk saling membantu. Suara gemuruh angin terdengar kian riuh. Cahaya bulan bersinar redup, menelusup di antara gumpalan-gumpalan awan berwarna kelabu. Tanganku sudah terasa perih oleh goresan-goresan dan lecet. Tak ada sarung tangan untuk melindunginya. Di bawah sana, di antara bayangan gelap, terlihat kerlip lampu-lampu. Aku membayangkan, pasti penghuninya tengah lelap dibuai mimpi. Aku membayangkan kamar yang hangat… Aku berpikir, kenapa orang mau bersusah payah melakukan hal sulit semacam ini, termasuk juga diriku? Tapi entah kenapa, aku tak merasa pantas untuk mengeluh, apalagi menyesalinya.
Menjelang subuh kami sampai di puncak. Sulit sekali menggambarkan perasaanku begitu melihat cahaya merah di ufuk barat, matahari yang seakan keluar dari batas langit. Luar biasa! Belum lagi putih awan-awan di bawah kami. Aku teringat sebuah lagu berjudul Negeri di Awan dan aku merasa itulah negeri yang dimaksud lagu itu. Negeri di awan. Ya, kami sedang berada di negeri awan!
Subscribe to:
Posts (Atom)


