Saturday, 18 April 2015

The Candy Makers, Petualangan Para Bocah Pembuat Permen

Demi mengikuti kontes tahunan membuat permen, 4 orang anak berusia 12 tahun, diundang oleh Pabrik Permen 'Life is Sweet' untuk berlatih. Mereka adalah, Logan, anak pemilik pabrik, Phillip, Miles dan Daisy. Tapi siapa sangka kalau ternyata-- kecuali Logan--masing-masing peserta memiliki rahasia dan motif tersendiri yang sama sekali tak ada hubungannya dengan membuat permen? Dan siapa sangka juga jika latihan di Pabrik Permen 'Life is Sweet' tidak hanya mengajarkan kepada mereka 'cara membuat permen' tapi juga arti kerjasama dan persahabatan sejati.

Hihi, tadinya saya sempat berpikir ini adalah semacam cerita ala Willy Wonka versi pabrik Permen.Tapi ternyata sama sekali tidak. Meskipun proses pembuatan permen diceritakan dengan cukup mendetail, tapi bukan itu yang kemudian akan menjadi fokus utama cerita. Phillip, Miles dan Daisy memiliki cerita masing-masing yang ternyata hampir tak ada hubungannya dengan kontes membuat permen. Cerita yang akan membuat buku ini semakin seru dan kaya.

Awalnya, saya jsempat berpikir bahwa beberapa bagian terasa terlalu 'berat' dan 'serius' untuk sebuah cerita anak-anak. Tapi semakin kesini, ternyata tidak seperti itu, kok. Nuansa petualangan khas anak-anaknya disajikan dengan menegangkan dengan akhir yang tentu saja menyenangkan dan memberi banyak pelajaran. Good story!

Penerjemahannya saya pikir juga cukup sempurna (meskipun saya belum baca versi aslinya, hihi). Beberapa permainan kata yang memberi unsur lucu dalam cerita diterjemahkan dengan padanan kata yang pas (permen OLEH-nya Daisy atau permainan kata Miles). Jika pun ada yang terasa kurang hanyalah cukup banyaknya salah ketik pada buku ini sehingga sedikit mengganggu kenyamanan membaca.

Judul: The Candy Makers
Penulis: Wendy Mass
Penerjemah: Maria Lubis
Penerbit: Atria (PT. Serambi Pustaka Utama), Jakarta
Cetakan 1: Juli 2011
Judul Asli: The Candymakers
Penerbit: Hendry Holt & COmpany, New York (2010)

Wednesday, 25 February 2015

Penulis Favorit: Lucy M. Montgomery

Bermula Dari The Golden Road
Saya "kenal" Lucy M Montgomery secara tak sengaja. Berawal dari kebiasaan saya ngubek-ubek obral buku murah di Gramedia. Pada kesempatan seperti ini, karena harganya yang begitu murah, saya seringkali kalap dan membeli buku apa saja yang terlihat menarik meski belum pernah mendengar atau membaca resensinya sama sekali. Pun ketika menemukan buku bersampul coklat dengan judul "The Golden Road"-nya Lucy yang hanya dihargai Rp. 15.000, tanpa pikir panjang langsung saya masukkan ke tas belanja.


Harus saya akui, saya bukan pembaca yang tekun sehingga buku-buku yang saya beli kadang numpuk beberapa lama sebelum dibaca. Dan karena saya tak punya petunjuk apapun soal cerita dan penulis The Golden Road, buku ini juga cukup lama mengonggok di rak buku tanpa saya sentuh. Hingga mood membaca saya muncul dan saya pun mulai membacanya, bab pertama, kedua...  ya ampun, saya tak bisa berhenti membaca!

Meskipun ceritanya bisa dibilang "sederhana" mengetengahkan suatu masa hari-hari anak-anak yang menjelang remaja, di Pulau Prince Edward. Namun gaya penceritaan Lucy lah yang menurut saya sangat memukau. Karakter-karakternya begitu manis dengan dialog khas anak-anak yang terasa begitu murni dan polos. Lalu penggambaran latarnya? Luar biasa! Selama membaca, imajinasi saya langsung melambung, membayangkan deretan kebun apil, matahari musim semi, senja yang memerah... ah, ah, dunia yang begitu indah permai!

Pulau Prince Edward yang jadi setting cerita-cerita Lucy (sumber gambar: worldatlas.com)

Saya nggak tahu, apa hal itu sebenarnya berkaitan dengan sentimenalisme pribadi saya juga. Saya lahir dan menghabiskan separoh masa kecil saya di sebuah tempat yang memiliki pemandangan sangat memukau dan membaca The Golden Road, seolah mengantarkan saya menjelajahi kembali tempat-tempat penuh kenangan masa kecil saya. Dan sempat terlintas, bahwa suatu saat kelak, saya ingin menulis cerita seperti The Golden Road juga. Semoga!

Setelah saya membaca The Golden Road, saya langsung menetapkannya sebagai salah satu bacaan favorit saya. Dan karena ternyata ini adalah buku kedua dari dua buku, saya pun kemudian penasaran mencari bagian pertamanya, "The Story Girl". Tapi ternyata cukup sulit menemukannya karena masa terbitnya yang sudah agak lama. Sekitar dua tahun berselang, saya baru menemukannya di sebuah obral buku juga. Meski begitu, selama masa itu saya mulai mencari-cari buku Lucy yang lain yang ternyata sudah cukup banyak yang diterjemaahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Ada seri Emily (pun saya baru dapat satu buku) dan tentu saja, seri Anne of Green Grables (masih ada 3 buku yang belum saya dapat).


Gaya penulisan Lucy sebenarnya tak jauh beda dengan penulis-penulis perempuan pada jamannya seperti Laura Inggals Wilder dengan seri Little House in the Prairie-nya atau Louise May Alcott dengan Little Women-nya. Tapi tentu saja ia tetap memiliki kekhasan dalam tulisan-tulisannya. Karakter-karakternya biasanya adalah anak-anak perempuan yang ceria, optimis, 'tidak sempurna', tapi tetap istimewa. Dan tentu saja, penggambaran latarnya yang puitisnya juga sangat khas Lucy.

Sekilas tentang Lucy  Maud Montgomery
Lucy  Maud Montgomery (L.M Montgomery), merupakan penulis Kanada kelahiran 30 November 1874 di Clifton, Pulau Prince Edward, tempat yang kemudian menjadi latar utama dari cerita-ceritanya. Ketika Lucy berumur 21 bulan, ibunya meninggal karena TBC dan ayahnya kemudian menyerahkan pengasuhannya pada kakek dan neneknya di Cavendish.

Lucy M. Montgomery (sumber foto: nndb.com)

Pada usia 6 tahun, dia mulai bersekolah sekolah terdekat di Cavendish dan mulai menulis puisi dan membuat jurnal pada usia 9 tahun. Pada usia 16 tahun, puisinya yang berjudul "On Cape LeForce" dipublikasikan oleh koran loka, The Patriot. Setelah menyelesaikan sekolahnya ia kemudian belajar untuk mendapatkan ijin mengajar di Prince of Walles College selama dua tahun. Selepas itu, ia mulai mengajar di beberapa sekolah dan sempat berhenti untuk belajar literatur di Universitas Dalhousie, Nova Scotia dimana ia mulai menulis secara profesional.

Setelah kematian kakeknya pada tahun 1898, Lucy kemudian tinggal bersama neneknya di Cavendish hingga 13 tahun kemudian, dan selama masa-masa di Cavendish inilah ia teruse menulis berbagai puisi, cerita dan serial untuk majalah berbahasa Inggris dan mendapat penghasilan yang lumayan dari sana.

Tahun 1905,dia menulis novel pertamanya yang kemudian menjadi sangat terkenal, Anne of Green Grables setelah dipublikasikan pada tahun 1908 dan ia pun dinobatkan sebagai novelis dengan karir yang cemerlang. Pada tahun 1911, setelah kematian neneknya, ia menikah dengan dengan Reverend Ewan Macdonald, setelah sebelumnya sempat terlibat beberapa kisah romantis dengan sepupunya, Edwin Simpson dan Herman Leard. Bersama suaminya, ia kemudian pindah ke Leaksdale Ontario dimana Macdonald menjadi menteri gereja Presbyterian. Lucy kemudian melahirkan 3 putra, Chester (1912), Hugh (lahir dan menignggal 1914) dan Stuart (1915). Sembari membantu kerja suaminya, ia tetap menulis. Pada tahun 1935, mereka pindah ke Toronto hingga Lucy meninggal pada 24 April 1942, disusul suaminya satu tahun kemudian. Jasad Lucy kemudian disemayamkan di tempat kesayangannya, Pulau Prince Edward.

Kediaman Lucy di Cavendish yang dijadikan situs sejarah (sumber: tourismpei.com)

Seperti tokoh-tokoh dalam bukunya, konon Lucy juga adalah sosok yang cerdas dan sangat sensitif dan sosok Emily dan trilogi Emily, konon merupakan karakter yang paling mirip dengan dirinya.

Selama hidupnya, Lucy telah menerbitkan 20 novel, dan lebih dari 500 cerita pendek, autobiografi dan kumpulan puisi. Untuk menghormati dirinya, L.M Montgomery Institute mendirikan, University of Prince Edward Island pada tahun 1993. Selain ini kediaman Lucy di Leaskdale Manse, Ontario Ontario dan juga Green Gables dan Cavendish di Pulau Prince Edward dijadikan situs sejarah nasional oleh pemerintah Kanada.

Karya-karya Lucy:

Seri Anne of Green Gables:
- Anne of Green Gables (1908)
- Anne of Avonlea (1909)
- Anne of the Island (1915)
- Anne of Windy Poplars (1936)
- Anne's House of Dreams (1917)
- Anne of Ingleside (1939)
- Rainbow Valley (1919)
- Rilla of Ingleside (1921)


Seri Emily:
- Emily of New Moon (1923)
- Emily Climbs (1925)
- Emily's Quest (1927)


Seri Pat of Silver Bush:
- Pat of Silver Bush (1933)
- Mistress Pat (1935)


The Story Girl:
- The Story Girl (1911)
- The Golden Road (1913)

Miscellaneous:
- Kilmeny of the Orchard (1910)
- The Blue Castle (1926)
- Magic for Marigold (1929)
- A Tangled Web (1931)
- Jane of Lantern Hill (1937)

Kumpulan Cerpen:
- Chronicles of Avonlea (1912)
- Further Chronicles of Avonlea (1920)
- The Road to Yesterday (1974)
- The Doctor's Sweetheart and Other Stories, selected by Catherine McLay (1979)
- Akin to Anne: Tales of Other Orphans, edited by Rea Wilmshurst (1988)
- Along the Shore: Tales by the Sea, edited by Rea Wilmshurst (1989)
- Among the Shadows: Tales from the Darker Side, edited by Rea Wilmshurst (1990)
- After Many Days: Tales of Time Passed, edited by Rea Wilmshurst (1991)
- Against the Odds: Tales of Achievement, edited by Rea Wilmshurst (1993)
- At the Altar: Matrimonial Tales, edited by Rea Wilmshurst (1994)
- Across the Miles: Tales of Correspondence, edited by Rea Wilmshurst (1995)
- Christmas with Anne and Other Holiday Stories, edited by Rea Wilmshurst (1995)
- The Blythes Are Quoted, edited by Benjamin Lefebvre (2009) (companion book to Rilla of Ingleside)


Puisi:
- The Watchman & Other Poems (1916)
- The Poetry of Lucy Maud Montgomery, selected by John Ferns and Kevin McCabe (1987)


Non-fiksi:
- Courageous Women (1934) (with Marian Keith and Mabel Burns McKinley)
Otobiografi:
- The Alpine Path: The Story of My Career (1974; originally published in Everywoman's World in 1917)
- The Selected Journals of L.M. Montgomery (5 vols.), edited by Mary Rubio and Elizabeth Waterston (1985–2004)
- The Complete Journals of L.M. Montgomery: The PEI Years 1889-1911 (2 vols.), edited by Mary Henley Rubio and Elizabeth Hillman Waterston (2012-2014)


Sumber: wikipedia.org, lucymontgomery.com

Thursday, 19 February 2015

Harun dan Samudra Dongeng, Sebuah Dongeng Yang Memukau

Sejak membaca paragraf pertama, buku ini langsung membuat saya jatuh cinta:

"Pada suatu hari, di negeri Alifbay terdapat sebuah kota yang sedih. Kota itu adalah kota yang paling sedih di antara kota-kota lainnya, sebuah kota yang begitu parah sedihnya sehingga lupa pada namanya sendiri. Ia terhampar di tepi sebuah laut yang berkabung, penuh-penuh dengan ikan-ikan pemurung..."

Sebuah pembuka yang sangat luar biasa bukan? Dan itu belum seberapa, karena kemudian kita akan diajak bertualang bersama seorang bocah lelaki bernama Harun Khalifa dan ayahnya, Rasyid, seorang pendongeng yang dijuluki Raja Omong Kosong.


Rasyid adalah seorang pendongeng handal yang seolah tak pernah kehabisan cerita. Hingga suatu hari, istrinya, Soraya, tiba-tiba pergi meninggalkannya, lari bersama suami tetangga, Pak Sengupta. Mendadak, Rasyid kehilangan kemampuannya. Harun yang menyayangi ayahnya, kemudian berusaha keras untuk mengembalikan kemampuan ayahnya. Tapi bagaimana? Karena setelah kepergian ibunya, ia bahkan pikirannya selalu berhenti setelah 11 menit, pada pukul berapa sang Ibu minggat dari rumah.

Hingga sebuah keajaiban terjadi. Ketika pergi untuk mendongeng ke sebuah kota di dekat Danau Membosankan, suatu malam, tanpa sengaja Harun bertemu dengan Jikka, Jin Air yang berasal dari Kota Gup, Negeri Samudra Dongeng. Jikka mengatakan bahwa ia bisa membantu Harun untuk mengembalikan kemampuan ayahnya, tapi Harun harus ikut ke Kota Gup.

Masalahnya, di Kota Gup sedang terjadi kerusuhan. Putri Batcheat diculik oleh penguasa kesenyapan dari Negeri Chupwala, Khattam-Sud, yang ingin menghancurkan Samudera Dongeng. Demi ayahnya, Harun pun kemudian ikut membantu berperang melawan Khattam Sud. Bersama teman-temannya, Jikka, Tappi si Burung Bulbul, Mali si Tukang Kebun Terapung, Cerewet, si prajurit perempuan yang cerewet dan Ikan Banyak Mulut, Harun memulai petualangannya.

Wow, sebuah cerita yang luar biasa! Dituturkan dengan bahasa yang begitu indah, tapi tetap ringan dan lucu. Bukan hanya menghibur, tapi juga banyak pelajaran berharga yang bertebaran di sepanjang cerita. Tak berlebihan kiranya kalau saya mengatakan bahwa buku ini sangat-sangat layak untuk dibaca oleh kepada seluruh anak di dunia :)

Judul Buku    : Harun dan Samudra Dongeng
Penulis          : Salman Rushdie
Penerbit        : Serambi Ilmu Semesta, 2011
Penerjemah   : Anton Kurnia
Diterjemahkan dari: Haroun and The Sea of Stories, Puffin Books, New York, 1990
Beberapa quote keren:
"Satu saat kita dinaungi bintang keberuntungan dan sesaat kemudian yang tersisa hanyalah omong kosong" (hal.16)

"Apa gunanya dongeng-dongeng itu? Hidup bukanlah sebuah buku cerita atau toko lelucon" (hal. 18)

"Akhir yang bahagia amat jarang terjadi di dalam cerita, juga dalam kehidupan, lebih jarang daripada yang dipikirkan orang. Tapi selalu ada perkecualian sebab itu bukan peraturan." (Anjing Laut kepada Harun, hal. 206)

"Akhir yang bahagia harus terjadi pada akhir sesuatu, jika terjadi di pertengahann cerita atau sebuah petualangan, atau yang semacamnya, yang terjadi hanyalah hiburan sejenak," (Anjing Laut pada Harun, hal. 207)

Tuesday, 27 January 2015

Bernostalgia dengan Zaman Surat-Menyurat

Tiba-tiba ingin bernostalgia dengan jaman ketika komunikasi masih diperantarai oleh surat-menyurat. Lima belas tahunan yang lalu. Hmm, sudah cukup lama juga ya ternyata? Kalau dihitung-hitung, seusia satu generasi remaja. Kasihan juga ya generasi yang nggak merasakan serunya surat menyurat? (hihi, sebenarnya ini hanya penghiburan dari seorang generasi yang baru sadar kalau dirinya sudah tua ^-^).

Surat Cinta 

Ini tentu yang paling ngetren di jaman surat-menyurat. Meski pacaran dengan cowok satu sekolah ataupun tetangga sebelah, rasanya nggak afdol kalau tanpa surat-surat cinta. Kalau dipikir-pikir agak aneh juga sih karena sebenarnya nyaris bisa ketemu tiap hari, tapi kalau kirim surat bisa berlembar-lembar. Tapi mungkin juga karena cara bergaul waktu itu belum seterbuka sekarang. Pacaran berdua-duaan masih agak tabu. Lantas apa saja sih yang biasanya ditulis dalam surat cinta? Sepengetahuan saya sih biasanya cuma gombal-gombalan dan bujuk rayu mendayu-dayu yang menggelikan.

Nah untuk surat cinta ini, perlu perlakuan khusus. Kertasnya nggak bisa sembarangan. Nggak harus sih, tapi sebaiknya pakai kertas khusus lengkap dengan amplopnya. Kalau cuma pakai kertas buku tulis biasa, rasanya gimana...gitu. Untuk kertasnya sendiri sangat mudah mendapatkannya karena banyak di jual di warung-warung. Kertasnya penuh motif, biasanya berbunga-bunga dan harum pula. Jika kurang wangi, tinggal disemprot pakai minyak wangi. Gombalan biasanya dimulai sejak kalimat pembukanya : Toex Ytc./Yts./Ytr./Ytk... (yang tercinta/yang tersayang/yang terindu/yang terkasih.. :P) Jika sudah puas menggombal, tinggal lipat rapi, masukkan ke amplop, dilem (kalau mau irit, pakai nasi :D), kirim deh. Karena penerimanya cuma dekat-dekat saja, tak perlu pakai jasa tukang pos tapi cukup dititipkan pada seorang mak comblang. Biasanya adalah teman dekat si kekasih hati yang bisa dipercaya. Nggak lucu kan kalau surat yang kita kirim dibaca duluan sama si mak comblang?
 

Surat Untuk Artis Idola
Selain surat cinta,  tren surat menyurat yang lain adalah kirim surat ke artis idola. Alamat artis-artis idola biasanya dicantumkan di majalah-majalah langganan.  Isi suratnya sih biasanya menyatakan sebagai fans dan minta dikirimi foto atau merchandise. Seringkali pakai sarat:  diharapkan mengirimkan prangko balasan kalau mau dibalas.

Koleksi Perangko  (Filateli)
Ketika Pak Pos datang, selain mengantarkan surat-surat, beliau biasanya juga akan menawarkan majalah terbitan Kantor Pos dan di situ, biasanya dimuat informasi tentang hobi mengumpulkan perangko. Saya sendiri ingin sekali memiliki hobi itu apalagi kalau melihat gambar yang tercetak di perangko unik dan lucu-lucu. 

(sumber foto: museumindonesia.com)

Namun apalah daya, saya tak pernah punya kelebihan uang jajan untuk membeli perangko. Biasanya saya hanya menyimpan perangko-perangko bekas, itu pun di album yang biasa saja sehingga pastilah secara kualitas tidak terjaga. Kebetulan tempat penampungan surat ada di dekat sekolah dan sering saya iseng 'ngleteki' prangko dari surat-surat milik orang yang prangkonya bagus. Pernah saya mencoba membeli satu seri perangko, niatnya untuk koleksi, tapi kemudian habis saya pakai buat mengirim surat.  

Kartu Pos
Saya jarang menulis surat lewat kartu pos. Lebih sering kartu pos hanya untuk mengirim jawaban kuis di majalah remaja, karena memang biasanya disyaratkan begitu. Namun beberapa kali saya pernah mendapat kiriman kartu pos dari teman-teman saya yang sedang liburan ke luar negeri dan rasanya menyenangkan, karena gambarnya biasanya keren-keren.


Sahabat Pena
Ketika remaja, hobi surat menyurat saya makin menjadi dengan adanya tren sahabat pena. Sangat mudah mendapatkan sahabat pena. Salah satunya dengan membeli LKS. Nah, di sampul belakang LKS ini biasanya tercantum foto berikut biodata orang-orang yang bisa diajak bersahabat pena. Saya pernah coba, tapi entah kenapa, tak dibalas. Cara lain adalah mengirim surat program sahabat pena di RRI Nasional. Dan itulah yang kemudian saya lakukan. Caranya hanya berkirim surat ke radio, menyatakan bahwa kita ingin mencari sahabat pena lengkap dengan alamat kita. Nanti sang penyiar akan membacakan surat kita berikut alamat. Dan eng, ing, eng...ternyata cara ini sangat berhasil. Beberapa waktu setelah surat saya dibacakan, saya kebanjiran surat dari para sahabat pena yang ingin kenalan. Tak kurang dari 20 surat saya dapatkan setiap minggunya! Karena surat-surat tersebut saya alamatkan ke sekolah, dalam sekejap saya menjadi populer sebagai orang yang menerima banyak surat.

Pengirimnya macam-macam dan berasal dari seluruh penjuru nusantara. Ada teman sebaya, ada kakak kelas, ada TNI yang sedang bertugas di Papua, ada TKI di Malaysia... Isi suratnya pun bervariasi, ada yang ngajak kenalan biasa, ada yang ngajak pacaran, ada yang ngajak arisan jarak jauh... lucu-lucu lah pokoknya. Karena keterbatasan keuangan saya membeli perangko, saya pun terpaksa memilah-milah surat mana yang sebaiknya saya balas. Kalau isi suratnya aneh-aneh dan nggak nyambung ya nggak saya balas.


Naksir-Naksiran dengan Sahabat Pena dan Email yang "Merusak" ^-^
Dari para sahabat pena, beberapa menjalin komunikasi hingga beberapa kali surat menyurat, beberapa terputus begitu saja. Hanya satu dua yng bertahan cukup lama. Bahkan ada yang sampai membuat naksir lho, hihi. Waktu itu ada seorang sahabat pena yang mengaku mahasiswa di Bogor. Tulisannya sangat rapi dan bahasanya juga sangat sopan dan terkesan terpelajar. Meskipun isi surat kami hanya tentang hal-hal keseharian, tapi rasanya sangat menyenangkan. Saya sampai deg-degan kalau menerima surat dari dia. Tapi semua itu kemudian rusak ketika tiba-tiba muncul cara berkomunikasi baru yang lebih canggih: email.

Yah, email. Ketika mulai tren email, karena sahabat pena saya mengaku punya email, saya pun belajar bikin alamat email. Saya berpikir, dengan adanya email, komunikasi kami akan menjadi lebih mudah. Kenyataannya? Kami menjadi semakin jarang berkomunikasi. Surat menyurat menggunakan email memang lebih cepat dan ekonomis, tapi rasanya jauh berbeda dengan surat menyurat menggunakan kertas... dan begitulah, perlahan, komunikasi di antara kami semakin jarang. Dan akhirnya benar-benar putus.

Dan hal itu juga menandai berakhirnya era sahabat-sahabat penaan saya. Dan bisa dibilang era surat menyurat. Satu-satunya surat menyurat yang masih saya lakukan hingga beberapa waktu kemudian adalah dengan orang tua saya. Waktu itu saya melanjutkan sekolah di tempat yang jauh dan orang tua saya tinggal di kampung yang tak kenal apa itu email (waktu itu ponsel masih barang mewah).

Kantor Pos yang semakin ditinggalkan :(

Belakangan, dengan semakin mudahnya komunikasi, surat menyurat benar-benar tak pernah lagi saya lakukan kecuali hal-hal yang bersifat formal (lamaran kerja, dkk). Komunikasi bisa dilakukan setiap saat dengan pesan-pesan pendek dari berbagai penyedia layanan internet yang bisa dibilang gratis. Meskipun kadang-kadang merindukan masa-masa surat menyurat yang terasa romantis dan 'penuh perasaan' itu, tapi saya juga sangat mensyukuri kemajuan teknologi komunikasi saat ini yang tentu saja memudahkan banyak hal. Yah, bagaimanapun, semua  ada jamannya :)***

Friday, 23 January 2015

Kereta Api, Riwayatmu Kini

Saya selalu punya imajinasi romantis yang aneh tentang kereta api. Derak rodanya yang menggilas rel, suara peluit panjang yang mengiringi setiap keberangkatan, sawah dan pepohonan yang berlarian... semua itu terasa romantis dan sentimentil. Meski begitu, aneh bahwa kebanyakan pengalaman nyata naik kereta api saya sebenarnya jauh dari kesan romantis maupun sentimentil. Alih-alih kalau tidak mau dibilang penat dan melelahkan.

Perkenalan pertama saya dengan kereta api ketika saya berumur 9 tahun dalam perjalanan Jogja-Jakarta. Kereta apinya kelas ekonomi. Tak banyak ingatan yang tersisa dari momen itu selain kesan penuh sesak, panas, bau, kumuh dan berisik oleh para pedagang asongan dan peminta-minta.

Setelah itu, lama saya tak pernah naik kereta api lagi hingga sekitar pertengahan tahun 2000-an. Rutenya sama: Jogja-Jakarta. Kali ini, karena dibayari, pilihannya adalah kelas bisnis. Tiketnya Rp. 80.000 atau Rp. 60.000, saya tak terlalu ingat. Tak ada perbedaan mencolok antara kelas ekonomi dan bisnis selain bahwa tempat duduknya sedikit lebih empuk. Namun dari segi suasana kereta api nyaris sama saja: penuh sesak dan berisik oleh pengamen, peminta-minta dan pedagang asongan yang tak pernah berhenti mondar-mandir. Baru merem sejenak sudah ada ewer-ewer mengusik gendang telinga. Bahkan pernah saya sedang tidur dibangunkan dengan kasar oleh seorang pengamen demi meminta recehan. Gondok sekali rasanya.

Berikutnya, saya naik kereta api lagi dalam rangka liburan bersama teman-teman kampus ke Tasikmalaya. Karena liburan ala anak kuliahan ya tentu saja pilihannya lagi-lagi yang paling ekonomis: kelas ekonomi. Tiketnya sangat murah, kurang dari 30 ribu seingat saya. Tak ada teraan tempat duduk, hanya sekeping potongan karton bercap harga. Karenanya, tak pernah ada jaminan bisa duduk kecuali kereta api memang sedang sepi. Sialnya, kami pergi pada musim liburan dan kereta api sangat penuh sesak. Boro-boro mendapat tempat duduk, sekadar tempat berdiri saja susah. Kami harus rela berdesak-desakkan, digeser kesana-kemari karena pedagang asongan dan pengamen yang terus hilir mudik. Minta ampun!

Namun pengalaman yang cukup 'mengerikan' bagi saya adalah ketika suatu hari usai memenuhi undangan wawancara kerja di Jakarta dan pulang naik kereta api. Saya berdua teman saya, sama-sama perempuan, awalnya ingin naik kereta api bisnis tapi ternyata tiketnya habis dan kami tak punya pilihan selain kereta api ekonomi.

Karena akhir pekan, kereta api benar-benar penuh sesak. Karena memang tak ada nomor kursi, kadang ada beberapa penumpang yang dengan tamak menguasai dua kursi sekaligus agar bisa nyaman. Tempat berdiri di sepanjang lorong juga sudah sesak, jadilah saya dan teman saya harus 'rela' mendapat tempat sempit di ruang gandengan antargerbong bersama beberapa penumpang lain. Sebagai alas duduk, kami membentang koran dan jika mengantuk, tidur dalam posisi duduk yang sangat-sangat tidak nyaman. Selesai? Belum. Lagi-lagi kami harus terbangun setiap saat, memiringkan posisi karena setiap kali pedagang asongan lewat, nyaris menginjak kami.

Sepanjang malam kami harus "menikmati" perjalanan seperti itu, dan baru pagi hari, ketika kereta api sampai di sekitar Kebumen akhirnya banyak penumpang turun dan kami bisa duduk di kursi dengan perut yang kembung karena masuk angin. Saat ini, mengenang hal itu terasa lucu, tapi saya juga belum bisa melupakan betapa menyiksanya perjalanan itu.
 

Bangku kereta api kelas ekonomi sekarang yang bersih dan lumayan nyaman

Beberapa tahun belakangan, terjadi perombakan besar-besaran di dunia perkeretapian Indonesia. Awalnya saya tak terlalu percaya mendengar cerita teman-teman yang mengatakan bahwa naik kereta api, apapun kelasnya, saat ini sangat nyaman. Hingga saya mengalaminya sendiri ketika naik kereta api Jogja-Probolinggo kelas ekonomi tahun 2014 lalu dan tertakjub-takjub dibuatnya. Tiketnya 'canggih' lengkap dengan nomor tempat duduk sehingga bisa dipastikan tak akan ada penumpang "bangku tempel". Pemeriksaannya ketat sehingga nyaris tak memberi ruang pencopet menyelinap masuk. Ruang  kereta apinya bersih, dingin oleh AC dan bebas gangguan pedagang asongan atau pengamen.

Di sisi lain, saya juga takjub dengan harganya. Sistem pembeliannya sudah menggunakan sistem pasar ala tiket pesawat yang memungkinkan harganya fluktuatif dan pada satu masa bisa menjadi sangat mahal. Untuk kelas ekonomi, beberapa masih terasa masuk akal, tapi tidak dengan kelas eksekutif yang harganya bahkan kadang mengalahkan atau sama dengan tiket pesawat. Dengan perbandingan durasi perjalanan dan fasilitas, menurut saya harganya benar-benar menjadi mahal. 

Meski begitu, bagaimanapun saya merasa salut dengan PT KAI yang telah berbenah demikian drastis. Tidak hanya kereta apinya, tapi juga stasiun-stasiun yang bersih dan pelayanan yang rapi. Sebagai penumpang (terlepas dari harganya yang kadang masih sulit saya terima), saya merasa nyaman dengan pelayanan kereta api saat ini. Suasana hiruk pikuk gerbong kereta api beberapa tahun lalu memang menjadikan perjalanan penuh warna dan mengesankan, tapi juga seringkali sangat mengganggu. Belum lagi rasa was-was oleh ancaman tangan-tangan jahil yang berkeliaran ketika kita tertidur dan lalai dengan barang-barang kita. Jauh berbeda dengan saat ini.


Untuk perjalanan jauh, rasa penat sulit teralihkan tapi setidaknya saya merasa nyaman karena pasti mendapat tempat duduk. Saya merasa aman karena petugas yang mondar-mandir setiap saat, memastikan keamanan gerbong dan kenyamanan penumpang. Saya juga bisa tidur tenang tanpa keringat bercucuran dan gangguan teriakan  "Spriiit! Akwa! Mijon! Popmiii!..." yang seolah tiada jeda atau ecrek-ecrek para banci kaleng dengan nyanyian sombernya.

Namun, seringkali dalam lamunan saya setiap kali naik kereta api, tak urung saya teringat masa-masa kereta api yang riuh rendah dulu. Betapa murahnya harga tiket kala itu (Jogja-Jakarta hanya sekitar Rp. 40.000), sehingga memungkinkan orang-orang yang kurang secara ekonomi bisa bepergian dengan kereta api. Lalu para pengais rejeki di atas kereta api itu, berapa jumlahnya? Puluhan? Ratusan?  Kemana mereka semua? Jujur, saya tak tahu harus bagaimana dan satu-satunya hal yang mampu saya lakukan hanyalah mendoakan mereka. Semoga mereka baik-baik saja dan mendapat sumber penghidupan yang layak di tempat lain...Amiin! :(

Friday, 9 January 2015

Musik Keren: Clazziquai

Saya bukan penggemar lagu-lagu nge-beat atau musik electro, tapi Clazziquai adalah pengecualian. Yang saya tahu pertama kali dari Clazziquai adalah Alex. Waktu itu dengar Alex nggak sengaja  dari ngopi lagu  di warnet. Judulnya "Do soon eh," soundtrack-nya drama Korea "Que Sera Sera." Lagunya enak dan suara Alex juga keren banget. Saya kemudian tahu kalau Alex itu vokalis-nya Clazziquai, sebuah band beraliran acid jazz-elektronika Korea. Mereka mulai populer setelah ngisi ost-nya salah satu drama Korea yang cukup nge-hits, "My Name Is Kim Sam-soon" dengan lagunya "She Is" dan " Be My Love." yang memang enak didengar.  Penasaran, saya ngulik-ngulik di internet dan berhasil menemukan lagu-lagu mereka yang lain dan yeah, I'm fallin love with their music :)
Clazziquai

Clazziquai sendiri beranggotakan 3 orang: DJ Clazzi, Alex dan Horan. 
 DJ Clazzi bisa dibilang dedengkotnya band ini. Lahir 15 November 1974, dia punya nama lengkap Kim Sung-hoon, yang besar di Kanda. Dia tamatan dari Capilano College sebelum kemudian ngelanjutin belajar di CDIS (Center for Digital Image). Dia penggemar avid jazz dan biasa main piano untuk band beraliran jazz. Konon dia sempat kerja sebagai web designer, dan suka upload musiknya di internet. Dari sinilah kemudian muncul Clazziquai Project. Pakai istilah ‘project’ katanya karena ini merupakan semacam kerjasama yang bersifat sementara buat ngerjain suatu proyek musik. Meski begitu, konon anggota Clazziquai, karena ini kerjasama dalam menciptakan musik, mereka akan tetap eksis (buktinya mereka masih eksis hingga sekarang).
Alex yang nggak cuma populer sebagai penyanyi tapi juga merambah dunia akting


Anggota yang lain, yang paling beken, Alex Chu yang punya nama Korea Chu Hun-gon. Dia lahir 2 September 1979 (we born under the same sign :) ). Ia juga besar di Kanada. Lalu setelah besar balik ke Korea dan mulai bermusik. Punya modal Bahasa Inggris yang bagus, membuatnya fasih menyanyi, selain lagu-lagu Bahasa Korea juga Bahasa Inggris (dengan logat yang pas, nggak seperti kebanyakan penyanyi Korea yang logatnya kadang terdengar aneh :)).

Horan

Horan (Choi Horan) adalah vokalis cewek-nya Clazziquai. Dia menggantikan, Christina Chu, kakaknya Alex yang awalnya jadi lead vocal-nya Clazziquai. Nama aslinya Choi Su-jin, lahir tanggal 5 Juli 1979. Sama kayak Alex, Suaranya Horan ini juga keren dan memang pas banget kalau duet sama Alex.

Karena memang bersifat "project" Clazziquai memang tidak mengikat. Masing-masing anggotanya bebas bermusik di luar Clazziquai dan berkolaborasi dengan musikus siapapun. Pada tahun 2011, misalnya, DJ Clazzi sempat mengeluarkan digital single-nya dan menjadi produser musik untuk penyanyi Jepang, Izawa Asami.

Alex juga sempat bikin dua solo album dan beberapa single (meski saya lebih suka kalau dia bawain lagu-lagu bareng Clazziquai). Belakangan, didukung wajahnya  yang memang lumayan, dia juga mulai menjajal dunia akting  di beberapa drama Korea seperti  Finding Love , Pasta, Smile Dong Hae, Hotel King, She's so Lovable dan juga reality show  yang populer banget  "We've Got Married" (tapi menurut saya Alex tetep jauh lebih keren kalau lagi nyanyi. suaranya benar-benar TOP!).

Clazziquai, moga tetap eksis!

Pun dengan demikian dengan Horan. . Selain nyanyi di Clazziquai, Horan juga nyanyi untuk band-nya yang lain yang juga bergenre indie: Ibadi (band beraliran soul-acoustic. saya belum sempat dengar lagu-lagunya disana). Setahu saya, dia juga nyanyi solo, salah satu lagunya yang menurut saya enak banget adalah "Booranhan Sarang (Uncertain Love)" yang jadi ost-nya drama seri Korea "City Hall".

Di luar Clazziquai, Alex dan Horan ini sering duet dan tidak hanya membawakan lagu-lagunya DJ Clazzi, dan karenanya, nggak selalu bisa disebut Clazziquai meski Clazziquai identik dengan mereka berdua.

Whatever, saya pikir Clazziquai is one of Korean best music group dan semoga kerjasama mereka akan terus eksis dan selalu menghasilkan karya-karya yang qualified :)

Clazziquai Albums:instant pig (2004), color your soul (2005), LOVE CHILD of the CENTURY (2007), METROTRONICS (Special Album) (2008), MUCHO PUNK (2009), Blessed (2013), Blink (2014)


Favourite track:
I Will Give You Everything, Color Your Soul, Gentle Giant, Lazy Sunday Morning, Beautiful Stranger, Dateline, Flea, Speechless, You, Being Alone, Romeo & Juliet, Novabossa, I Will Never Cry, Gentle Rain, Madly

Sumber: wikipedia.org, generasia.com, koreanindie.com)

Tuesday, 6 January 2015