Sunday, 25 October 2015

Masih Tentang I Promise You

"Suda punya. Bagus ceritanya. Tp ada bbrapa ketikan kata yg salah spt blum di edit." (Novi Putri di laman facebook/gagasmediapage/photos_stream)

Sebuah komentar yang di satu sisi membuat saya tersanjung tapi di sisi lain juga membuat saya tertohok. 


Buku, bagi seorang penulis ibarat anak-anak yang ia lahirkan dari rahim pikirannya. Sungguh sebuah kebahagiaan tak terkira ketika akhirnya melihatnya terbit, mewujud dalam bentuk buku. Namun bagaimana jika si anak yang lahir tak sesempurna yang ia bayangkan? Tak urung, sepercik kecewa pun hinggap. Itulah yang saya rasakan setelah kelahiran buku saya, I Promise You.

Secara umum, buku saya sudah hampir sesempurna yang saya bayangkan. Mulai dari desain sampul, bentuk buku, tata letak hingga pilihan font-nya... semuanya 'sempurna' (much thanks to tim Gagas yang kreatif dan keren habis!). Kebahagiaan itu nyaris sempurna sebelum kemudian saya membaca lagi tulisan saya yang sudah berbentuk buku.

Bagi saya, sebagai "ibu" dari buku ini, tahu persis apa yang ingin saya sampaikan, menyadari kalau kemudian--karena beberapa hal, menjadi tak sepenuhnya tersampaikan-- merasa sangat tidak nyaman. Dan dalam hal ini, saya sama sekali tak ingin menyalahkan siapa-siapa. Seperti saya tulis sebelumnya, buku ini sudah melalui proses editing yang lama (sekitar 2 tahun!). Secara substansi, sebenarnya tak terlalu banyak perubahan dengan tulisan asli yang saya kirim dalam proses editing. Editing lebih banyak ke pengejaan serta pemangkasan beberapa bagian yang dianggap bertele-tele. Saya yakin, editor sudah bekerja keras membuat tulisan saya lebih layak baca. Saya juga selalu dilibatkan dalam proses editing. Namun, yah itulah. Lamanya proses editing yang kadang juga terputus-putus, jujur saja membuat 'feel' saya terhadap tulisan ini menjadi agak berkurang. Hal tersebut juga mengurangi ketelitian saya. Ditambah lagi kenyataan bahwa saya adalah seorang pemula, yang tak sabar melihat buku ini terbit,  lamanya proses editing ini membuat saya agak frutrasi sehingga kadang saya sampai pada titik jenuh dan berpikir: "yang penting segera terbit." Hal yang kemudian saya sesali.

Dan yah, bagaimanapun, buku sudah tercetak. Si bayi sudah lahir. Bagi para pembaca yang mungkin jadi terganggu ketika membaca novel ini, saya sebagai penulis, mohon maaf yang sebesar-besarnya.  Segala kekurangan dalam novel ini adalah sepenuhnya kekurangan saya.


Beberapa ralat:
Halaman 25 bagian :"... kemampuan dia mulai menyalakan mesin." seharusnya "kemudian dia mulai menyalakan mesin."

Halaman 60 bagian: "... adalah perempuan gila yang suka berkeliaran di kompleks perumahan ini " seharusnya "perumahan kami"

Halaman 67: "Wah Ugo itu benar-benar hebat ya Yah, masih muda ganteng, dokter lagi!" seru Ibu beberapa saat sepeninggal Ugo dan mamanya, dan kami duduk menonton televisi di ruang tengah. (seharusnya bagian ini dihilangkan karena pengulangan kalimat di atasnya)

Halaman 70:  "Kami sempat ngobrol-ngobrol sebentar sebelum memintaku membelikannya karena susunya habis" .seharusnya "Kami sempat ngobrol-ngobrol sebentar sebelum Ibu  memintaku membelikannya susu karena susunya habis."

Halaman 117: " Karena sekali aku ketiduran" seharusnya "" Karena lelah sekali aku ketiduran"


Halaman 187:  "Meski bukan fotografer profesional, aku kadang harus merangkap jadi fotografer juga." ke paragraf "Aku tuh bagusnya di ambil..." seharusnya ada kalimat penghubung.

Halaman 214: "Tapi sekarang? Bahkan aku merasa takut untuk bicara dengannya." ke paragraf: "Aku mengatur napasku sebelum memutuskan menyentuh tombol "answer". ada kalimat penghubung.

Halaman 245: "aku benar-benar tak mengerti kenapa Dira polos sekali soal cinta padahal mereka sebaya. " seharusnya "aku benar-benar tak mengerti kenapa Dira polos sekali soal cinta padahal kami sebaya."

halaman 250: "Aku benar-benar berharap Ugo, akan bisa membuat Dira selalu bahagia." ke paragraf: "Aku pun memutuskan ke rumah Dira. " ada kalimat penghubung

Wednesday, 26 August 2015

My Unimaginary Life

Hidup, bagi saya, kadang laiknya sebuah puzzle. Berisi serakan serpih-serpih yang harus dikumpulkan satu demi satu untuk menemukan bentuknya yang utuh. Kadang, puzzle itu begitu rumitnya, mewujud dalam hal-hal yang nyaris tak terbayangkan.

Seolah mengumpulkan serpih puzzle juga ketika saya tiba-tiba terdampar pada suatu tempat, bertemu seseorang atau orang-orang, melakukan hal-hal-- yang bahkan tak pernah terlintas di benak saya. Di satu sisi, hal-hal tersebut membuat saya merasa absurd: kenapa dan apa makna dari semua ini? Namun di sisi lain, hal-hal tersebut juga membuat saya takjub. Merasakan hidup yang penuh kejutan menarik. What a wonderful unimaginary life!

Tuesday, 7 July 2015

Tentang "I Promise You"


(photo taken from @Dwi_Yan twitpic)
Ini adalah tentang 3 sahabat yang bersama sejak kecil: Dira, Ega dan Silla. Mereka saling berjanji untuk selalu bersama, saling menjaga dan tak menyakiti. Namun, masalah menjadi rumit ketika mereka saling jatuh cinta. Dan, persahabatan mereka pun terusik. Cerita kemudian akan fokus pada bagaimana mereka berusaha untuk tetap menjaga persahabatan dan tak saling menyakiti. Belakangan, juga akan muncul sosok Ugo, yang akan menambah warna cerita.

Klise? Hehe, saya lebih senang menyebutnya klasik. Karena meski sudah banyak cerita cinta semacam ini, entah kenapa rasanya tetap menarik untuk diceritakan kembali. Meski begitu, menulis cerita semacam ini juga punya kesulitan tersendiri. Bagaimana membuat kisah klasik tidak jatuh pada pengulangan yang membosankan alias klise.

Saya sendiri tidak bisa menyebut apakah yang saya tulis klasik atau klise. Tapi, setidaknya, saya sudah berusaha semampu saya untuk membuat cerita saya berbeda dengan cerita sejenis yang sudah-sudah. Saya berusaha untuk menjaga orisinalitas pada karakter, plot, setting dan alur cerita. Dan saya berharap, bahwa yang saya tulis benar-benar bukan sekadar klise.

Awalnya, saya memberi judul novel saya "Friendship". Meski menggunakan sudut pandang "aku" sebagai si pencerita, saya ingin menekankan hubungan persahabatan antara ketiga tokoh utamanya. Saya sendiri merasa kurang pas dengan judul itu karena terkesan terlalu 'datar', dan seperti yang saya duga, redaksi minta saya untuk menggantinya. Bagi saya, cukup sulit menemukan judul yang terasa pas. Saya mengajukan beberapa judul tambahan, tapi masih dianggap tidak ada yang pas. Dan yah, akhirnya, judul inilah yang dipilihkan redaksi di antara beberapa alternatif. Meski  sebenarnya saya sempat berharap judulnya agak 'berbunga' dan menggunakan Bahasa Indonesia, tapi ketika melihat desain cover-nya saya pun merasa sreg dengan judul yang diusulkan redaksi. Saya yakin, redaksi punya pertimbangan sendiri. 



Seperti saya bilang di tulisan saya sebelumnya, setelah penantian yang lama, lega rasanya buku ini akhirnya benar-benar diterbitkan. Meski kemudian muncul kekhawatiran-kekhawatiran yang lain. Hal yang mungkin juga dialami penulis-penulis lain, terutama penulis-penulis tak (/belum? :P) populer seperti saya. Pertanyaan-pertanyaan yang mengusik di benak: bagaimana tanggapan pembaca? sukakah mereka? what's next? bisakah terus menulis? bisakah buku berikutnya diterbitkan? Hmm... yah, semoga saja...wish me luck! :D

Monday, 6 July 2015

Jalan Panjang "I Promise You"

Saya menulis novel ini di tengah rasa jenuh saya  di lapangan ketika masih bekerja di pedalaman Jambi. Sebenarnya, ini adalah ide tulisan yang muncul belakangan dibanding beberapa tulisan saya yang lain. Idenya muncul begitu saja di antara lamunan saya. Ide tentang cinta segitiga dan cinta yang muncul dari persahabatan sejak kecil, memang selalu menarik bagi saya. Bagi saya, itu adalah cerita yang klasik dan karenanya selalu menarik.

Dari awal, saya sudah memiliki gambaran seperti apa tokoh-tokoh saya. Namun butuh beberapa waktu untuk menemukan ending yang pas.

Saya bukan penulis yang konsisten dan sangat tergantung mood. Sehingga tulisan-tulisan saya biasanya saya tinggalkan berserakan, selesai setengah-setengah. Pun dengan tulisan ini. Setelah ide utamanya saya tulis, saya membiarkannya lama terbengkelai. 



Hingga suatu hari, saya terhenyak. Saya dulu pernah punya keinginan untuk bisa menerbitkan buku saya sebelum usia saya 25 tahun. (Well, sebenarnya saya pernah menulis novel dan diterbitkan pada usia 22 tahun, tapi saya merasa itu adalah semacam 'proyek gagal' dan saya agak enggan mengingatnya :( )

Usia 25 akhirnya lewat begitu saja dan jangankan diterbitkan, satu buku pun belum ada yang selesai saya tulis. Kemudian saya menargetkan lagi bahwa saya harus punya buku setidaknya pada usia 27. Kenapa 27? Haha, saya agak terinspirasi ucapan Gie (Nicholas Saputra) di film Gie, bahwa usia 27 tahun adalah usia terjadinya hal-hal penting dalam kehidupan.Tapi 27 pun lewat begitu saja tanpa ada satu buku pun yang selesai saya tulis. Oke, akhirnya saya berusaha memasang target, setidaknya sebelum usia 30 tahun! Maka suatu hari, ketika sedang musim libur kantor, saya memutuskan untuk menyelesaikan salah satu tulisan saya. Setelah saya pilah-pilah, akhirnya tulisan inilah yang menurut saya idenya paling "jadi" dan juga sudah selesai sekitar 60 %.

Selama sekitar sepuluh hari menjelang libur lebaran, saya pun mulai mengobrak-abrik tulisan saya lagi. Mencoba mengisi bolong di sanasini dan setelah merasa jadi, memprint-nya dan mengirimkannya ke penerbit.

Pemilihan penerbit, sejak awal saya memang memilih Gagasmedia. Setelah melihat-lihat di toko buku, saya pikir penerbit inilah yang cocok dengan genre tulisan saya. Di sisi lain, saya menyukai desain-desain cover Gagas yang meski nge-pop tapi terkesan elegan dan tidak picisan. Saya selalu membayangkan bahwa buku saya akan terbit dengan desain sampul seperti itu.

Bulan Mei 2013, sekitar 7 bulan sejak pengiriman itu, akhirnya saya ditelepon orang yang memperkenalkan diri sebagai Mbak Michan, editor Gagas, mengatakan kalau novel saya bakal diterbitkan. Wah! Saya pun melonjak kegirangan. Jujur, saya sempat tak berani terlalu berharap ketika mengirimkan tulisan saya. Seorang teman yang punya banyak relasi dengan penulis mengatakan kalau menerbitkan buku di penerbit besar itu butuh relasi atau setidaknya sudah punya nama. Sementara saya tak punya relasi siapa-siapa, nama juga nggak ada yang kenal, hihi. Karenanya, kenyataan bahwa novel yang pertama saya kirim ke penerbit dan ternyata lolos hendak diterbitkan, membuat saya benar-benar gembira.

Editing dimulai. Rombak sana rombak sini. Beberapa bagian harus dipotong karena terlalu bertele-tele, beberapa bagian direvisi. Tak jarang ego penulis saya muncul dan merasa tak setuju dengan beberapa saran revisi. Tapi setelah saya baca-baca lagi, baru saya sadar kalau tulisan saya banyak yang bolong-bolong.

Ketika editor mengatakan "belum tahu" ketika saya tanya kapan persisnya buku saya akan terbit, saya kira itu artinya sekitar 3-6 bulan saja. Karena saya pikir, itulah waktu ideal proses editing blabla... Tapi ketika enam bulan berlalu dan belum ada kejelasan kapan buku saya terbit, saya mulai sedikit frustrasi dan was-was bahwa jangan-jangan, buku saya nggak jadi diterbitkan. Tapi ketika saya konfirmasi ke editor, dia bilang nggak akan seperti itu karena mereka sudah bilang mau menerbitkan dan saya merasa sedikit lega. Meski masih penasaran dan nggak sabar, akhirnya saya pasrah saja. Pastilah penerbit punya pertimbangan tersendiri. Bagaimanapun, saya hanyalah penulis baru yang belum punya nama dan saya juga sadar, tulisan saya bukanlah sesuatu yang sangat luar biasa sehingga kemungkinan juga tidak akan terlalu prospektif secara komersial. Untungnya, saya tidak menggunakan banyak 'penunjuk waktu' dalam tulisan saya sehingga saya juga tak terlalu khawatir bahwa isinya nggak update lagi misalnya.

Dan yah, buku itu sudah terbit sekarang, setelah sekitar dua tahun berproses. Ibarat bayi, ia sudah dilahirkan dan saya tahu, ia bukan milik saya lagi. Ia sudah bebas di luar sana dan pasarlah yang kemudian akan menentukan nasibnya. Jujur, hal ini membuat saya agak nerves. Meski saya tidak berani bermimpi ia akan menjadi best seller atau semacamnya, tapi saya berharap cukup banyak orang berminat untuk membacanya. Dan syukur-syukur, ada manfaat yang didapat ketika membacanya. Tidak muluk-muluk, sekadar perasaan senang dan terhibur saja sudah cukup. Semoga...^_^

Friday, 12 June 2015

Hal-Hal Berkesan Menjadi Remaja Era 90-an Akhir

Akhir 90-an, yah, sudah hampir 20 tahun berlalu. Semakin membuat sadar bahwa usia sudah semakin tuwir, hihi. Anehnya, rasanya baru beberapa waktu lalu masa-masa itu berlalu. Orang mengatakan bahwa masa remaja adalah salah satu masa yang paling indah. Dan saya nggak tahu, apa karena saya mengalami masa remaja di tahun itu, sehingga merasa bahwa akhir 90-an adalah salah satu masa yang paling menyenangkan. Bagaimana tidak, era akhir 90-an ada begitu banyak hal yang berkesan dan notable untuk diingat.

1. Musik Keren: Anak Band & Boyband.
Sebut saya subyektif, tapi saya pikir banyak yang setuju juga kalau era akhir 90-an adalah salah satu era terbaik dalam dunia musik. Setelah musik jedak-jeduk, cethas-cethus era 80-an hingga 90-an awal berakhir, mulai sekitar pertengahan  90-an bermunculan aliran musik yang terasa lebih 'anak muda' dengan musik lebih bervariasi, mulai dari pop, RnB, ska dan tentu saja, rock alternatif. Yup, terutama alternative rock yang diusung oleh band-band anak muda yang keren-keren. Tetap dijalur musik populer, tapi terasa lebih sophisticated yang bahkan lagu-lagunya tetap terasa everlasting didengarkan hingga sekarang. Sebut saja band-band keren seperti Greenday, The Cranberries, Blink 182, Blur, Gorrilaz, hingga band band yang dengan anggota yang lebih imut-imut dan bikin histeris cewek-cewek ABG: Hanson dan The Moffats! Hei, remaja 90-an (akhir), ngaku, siapa yang nggak koleksi poster mereka di kamar? :D

Hanson, the Taylor brothers  yang imut-imut
The Moffats!

Tak mau kalah, dari dalam negeri juga bermunculan band-band anak muda yang nggak kalah keren seperti Base Jam, Padi, Naff, Cafein, Sheila on 7 dengan lagu-lagu yang juga terasa everlasting.

Yang lokal juga gak kalah keren :D

Tidak hanya itu, selain anak-anak band, era ini juga menandai menjamurnya boyband dengan anggota cowok-cowok macho nan rupawan seperti N'Sync, Boyzone, Backstreet Boys, 98 degrees, AI dan tentu saja yang paling ngehits: Westlife! Tak mau kalah, di jajaran cewek juga muncul girlband. Yang paling fenomenal tentu saja Spicegirls yang meski berumur pendek tapi mengukir sejarah tersendiri bagi girlpower. Juga ada duo M2M dengan lagu-lagunya yang semanis gulali, Tatu yang agak kontroversial...

Westlife
The phenomenal Spicegirls!


2. Serial TV remaja

Era akhir 90-an juga menandai tren serial TV remaja. Jika sebelumnya didominasi serial yang lebih 'tua' seperti Friends, Baywatch, atau Beverly Hills, maka pada era 90-an akhir, muncul drama-drama remaja yang ngehits seperti Popular, Girlmore Girls dan tentu saja yang paling notable dan my favourite ever: Dawson's Creek! Sebuah drama remaja yang terasa sangat realistis, memadukan cerita tentang coming age story, persahabatan, keluarga dan kisah cinta yang klasik, dengan latar kota kecil Capeside yang tenang dan indah permai adalah ramuan jenius Kevin Williamsons, sang sutradara. Belum lagi sisipan soundtrack lagu-lagu terbaru yang keren-keren banget di setiap episode menjadikan Dawson's Creek terasa begitu fresh dan juga everlasting (sayang, serial ini menjadi terlalu panjang, 6 seasons, yang membuat lama-lama jengah mengikutinya dan well, I don't like the ending :( ).
 

The notable Dawson's Creek!

Dari dalam negeri tak mau ketinggalan, sinetron bertema remaja Cerita Cinta, yang terasa cukup solid yang kemudian melejitkan aktor-aktor muda pada jamannya seperti Cindy Fatika Sari, Teuku Firmansyah, Marcella Zalianty, Mario Lawallata, Ferry Maryadi, Louise Anastasia... dipadu soundtrack lagunya Dewa 19 yang juga terasa kena banget, Separuh Napasku (sampai sekarang kalau saya dengar lagu ini selalu ingat masa-masa itu, he).

3. Majalah Remaja
Di era akhir 90-an, internet belum terlalu populer. Masih banyak yang gaptek (termasuk saya) dan aksesnya juga terbatas di warnet-warnet. Informasi gosip dan dunia remaja diperoleh dari majalah-majalah remaja. Ada Aneka Yess! yang semarak dengan jajaran coverboy-covergirlnya, Kawanku yang terasa lebih smart, Gadis yang sangat girly dan Hai yang lebih cowok.  Menjadi seru karena hampir selalu ada  bonus poster-poster seleb keren yang bisa jadi pajangan di kamar. 



4. MTV
Harus diakui, tayangan TV lokal sejak dulu memang begitu-begitu saja. Diisi dengan berbagai sinetron yang episodenya hanya Tuhan yang tahu kapan akan berakhir. Karenanya, nonton TV kadang menjadi nggak banget kecuali kalau pas ada serial favorit, itu pun seminggu sekali. Untunglah, masih ada tayangan MTV yang terasa sangat anak muda dengan VJ-VJ yang keren-keren seperti Sarah Sechan, Jamie Aditya, Alex Abad... yang setia menyajikan info musik dan memutarkan video klip terbaru yang keren-keren.


5. Buku Lagu

Masih berkaitan dengan musik, menghafalkan lagu-lagu terbaru menjadi salah satu tren sehingga bisa ikut menyanyi kalau pas lagunya diputar di radio atau di di tv. Untuk itu, perlu mengetahui liriknya tentu saja. Kalau lagu-lagu lokal, tentu bukan hal yang sulit. Beda halnya dengan lagu-lagu berbahasa Inggris yang antara tulisan dan cara bacanya beda. Karena waktu itu akses internet belum semudah sekarang untuk cari dunlutan lirik lagu, cara terbaik adalah dengan mencatatnya. Caranya adalah cari di majalah, lalu dikliping atau disalin di buku khusus. Kalau nggak ada di majalah, ya kadang harus mendengarkan beberapa kali dan mencatatnya, hitung-hitung belajar listening Bahasa Inggris. Dulu, hampir semua teman di kelas saya (terutama cewek), punya buku khusus lirik lagu semacam ini sehingga bisa saling pinjam meminjam.

6. Fashion
Mengakhiri era 90an awal dengan fashion yang warna-warni dan gombrong-gombrong, era 90an akhir ditandai dengan era fashion yang lebih minimal, alias sempit. Kaos atau t-shirt ketat menjadi tren terutama di kalangan remaja cewek. Kaos yang memperlihatkan pusar atau sedikit melorot di pantat adalah hal yang wajar. Dipadu dengan celana (agak) cutbray. Untuk make up, tahun 90-an akhir ini menurut saya juga lebih baik karena warna-warnanya lebih natural. Untuk gaya rambut, mulai populer rebonding, potongan shaggy atau trap ala Jennifer Aniston.

Potongan rambut yang tidak beraturan menjadi tren

Sementara untuk cowok, hmm, standar sih. Paling rambut belah tengah, hihi.

7. Rental Komputer & DisketAkhir 90-an, penggunaan komputer untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah sudah mulai marak. Karena kepemilikan komputer pribadi masih jarang, ya caranya adalah dengang menyewa alias rental yang biasanya dihitung per jam. Satu jam bervariasi, antara Rp. 700 - Rp. 1500-an. Tergantung tempatnya. Biasanya murah kalau dekat-dekat kampus. Nah, untuk menyimpan file-nya, karena belum dikenal flashdisk yang kecil nan praktis, ya pakai floppy disk atau disket. Harganya sih nggak mahal, sekitar Rp. 5000-an, tapi kapasitasnya juga sangat kecil. Satu disket hanya berkapasitas 1,44 MB, jadi paling hanya muat beberapa file word kalau buat nyimpen gambar, 2-3 gambar langsung penuh.  Dan yang paling menyebalkan adalah si disket ini mudah sekali rusak dan terserang virus :(


 

8. Chatting
Era akhir 90-an juga ditandai dengan mulai populernya komunikasi lewat internet.Warnet-warnet mulai menjamur dan jadi tempat tongkrongan baru anak muda. Chatting adalah salah satu komunikasi termurah untuk mencari kenalaan lintas daerah bahkan lintas negara. Layanan chatting yang populer waktu itu adalah MIRC atau ICQ dengan tampilan yang sederhana, tapi mudah dan efektif. Cukup login, cari-cari member lain yang online, tinggal ketik "ASL, pls" dan obrolan pun dimulai.


Nah, dari chatting di dunia maya ini dampaknya bisa panjang. Karena obrolan nyambung, kadang mulai tumbuh benih-benih suka walaupun nggak pernah bertatap muka. Dari sini bisa dilanjutkan dengan obrolan lebih intensif lewat telepon atau kalau memungkinkan, ketemu langsung alias kopi darat. Nha, kopi darat ini juga banyak ceritanya. Kadang, karena namanya komunikasi di dunia maya, orang iseng saja mengaku dirinya begini atau begitu, jenis kelaminnya cowok atau cewek, dan ternyata pas kopi darat nggak seperti yang dibayangkan alias mengecewakan. Kalau sudah begini, biasanya hubungan akan segera the end alias nggak berhubungan lagi sama sekali. Tapi ada juga yang justru merasa semakin sreg setelah kopi darat dan ujung-ujungnya jadi teman dekat atau menjalin hubungan yang lebih serius seperti pacaran, atau bahkan ada yang sampai menikah. 


9. Reformasi. Remaja era 90-an akhir mengalami salah satu peristiwa penting dalam sejarah negeri ini: reformasi. Ini adalah era  yang juga ditandai dengan berbagai kerusuhan di berbagai tempat terutama di kota-kota besar. Dan mungkin pada beberapa orang meninggalkan trauma. Tapi tidak bisa dipungkiri, ini adalah juga era baru keterbukaan dan kebebasan. Istilah-istilah berbau politik bermunculan seperti KKN, Korupsi, Kolusi, Nepotisme.
 

10. Heboh era millenium. Akhir tahun 90an menandai berakhirnya milenium lama dan mulainya milenium baru. Banyak berita simpang siur terkait bergantinya era ini dan kadang bikin ketarketir karena ada isu akan terjadi kekacauan, millenium bugs, atau bahkan kiamat. Tren fashion baru juga berkembang, pakaian warna millenium yakni abuabu perak yang menurut saya nggak banget.
 



Saturday, 18 April 2015

The Candy Makers, Petualangan Para Bocah Pembuat Permen

Demi mengikuti kontes tahunan membuat permen, 4 orang anak berusia 12 tahun, diundang oleh Pabrik Permen 'Life is Sweet' untuk berlatih. Mereka adalah, Logan, anak pemilik pabrik, Phillip, Miles dan Daisy. Tapi siapa sangka kalau ternyata-- kecuali Logan--masing-masing peserta memiliki rahasia dan motif tersendiri yang sama sekali tak ada hubungannya dengan membuat permen? Dan siapa sangka juga jika latihan di Pabrik Permen 'Life is Sweet' tidak hanya mengajarkan kepada mereka 'cara membuat permen' tapi juga arti kerjasama dan persahabatan sejati.

Hihi, tadinya saya sempat berpikir ini adalah semacam cerita ala Willy Wonka versi pabrik Permen.Tapi ternyata sama sekali tidak. Meskipun proses pembuatan permen diceritakan dengan cukup mendetail, tapi bukan itu yang kemudian akan menjadi fokus utama cerita. Phillip, Miles dan Daisy memiliki cerita masing-masing yang ternyata hampir tak ada hubungannya dengan kontes membuat permen. Cerita yang akan membuat buku ini semakin seru dan kaya.

Awalnya, saya jsempat berpikir bahwa beberapa bagian terasa terlalu 'berat' dan 'serius' untuk sebuah cerita anak-anak. Tapi semakin kesini, ternyata tidak seperti itu, kok. Nuansa petualangan khas anak-anaknya disajikan dengan menegangkan dengan akhir yang tentu saja menyenangkan dan memberi banyak pelajaran. Good story!

Penerjemahannya saya pikir juga cukup sempurna (meskipun saya belum baca versi aslinya, hihi). Beberapa permainan kata yang memberi unsur lucu dalam cerita diterjemahkan dengan padanan kata yang pas (permen OLEH-nya Daisy atau permainan kata Miles). Jika pun ada yang terasa kurang hanyalah cukup banyaknya salah ketik pada buku ini sehingga sedikit mengganggu kenyamanan membaca.

Judul: The Candy Makers
Penulis: Wendy Mass
Penerjemah: Maria Lubis
Penerbit: Atria (PT. Serambi Pustaka Utama), Jakarta
Cetakan 1: Juli 2011
Judul Asli: The Candymakers
Penerbit: Hendry Holt & COmpany, New York (2010)

Wednesday, 25 February 2015

Penulis Favorit: Lucy M. Montgomery

Bermula Dari The Golden Road
Saya "kenal" Lucy M Montgomery secara tak sengaja. Berawal dari kebiasaan saya ngubek-ubek obral buku murah di Gramedia. Pada kesempatan seperti ini, karena harganya yang begitu murah, saya seringkali kalap dan membeli buku apa saja yang terlihat menarik meski belum pernah mendengar atau membaca resensinya sama sekali. Pun ketika menemukan buku bersampul coklat dengan judul "The Golden Road"-nya Lucy yang hanya dihargai Rp. 15.000, tanpa pikir panjang langsung saya masukkan ke tas belanja.


Harus saya akui, saya bukan pembaca yang tekun sehingga buku-buku yang saya beli kadang numpuk beberapa lama sebelum dibaca. Dan karena saya tak punya petunjuk apapun soal cerita dan penulis The Golden Road, buku ini juga cukup lama mengonggok di rak buku tanpa saya sentuh. Hingga mood membaca saya muncul dan saya pun mulai membacanya, bab pertama, kedua...  ya ampun, saya tak bisa berhenti membaca!

Meskipun ceritanya bisa dibilang "sederhana" mengetengahkan suatu masa hari-hari anak-anak yang menjelang remaja, di Pulau Prince Edward. Namun gaya penceritaan Lucy lah yang menurut saya sangat memukau. Karakter-karakternya begitu manis dengan dialog khas anak-anak yang terasa begitu murni dan polos. Lalu penggambaran latarnya? Luar biasa! Selama membaca, imajinasi saya langsung melambung, membayangkan deretan kebun apil, matahari musim semi, senja yang memerah... ah, ah, dunia yang begitu indah permai!

Pulau Prince Edward yang jadi setting cerita-cerita Lucy (sumber gambar: worldatlas.com)

Saya nggak tahu, apa hal itu sebenarnya berkaitan dengan sentimenalisme pribadi saya juga. Saya lahir dan menghabiskan separoh masa kecil saya di sebuah tempat yang memiliki pemandangan sangat memukau dan membaca The Golden Road, seolah mengantarkan saya menjelajahi kembali tempat-tempat penuh kenangan masa kecil saya. Dan sempat terlintas, bahwa suatu saat kelak, saya ingin menulis cerita seperti The Golden Road juga. Semoga!

Setelah saya membaca The Golden Road, saya langsung menetapkannya sebagai salah satu bacaan favorit saya. Dan karena ternyata ini adalah buku kedua dari dua buku, saya pun kemudian penasaran mencari bagian pertamanya, "The Story Girl". Tapi ternyata cukup sulit menemukannya karena masa terbitnya yang sudah agak lama. Sekitar dua tahun berselang, saya baru menemukannya di sebuah obral buku juga. Meski begitu, selama masa itu saya mulai mencari-cari buku Lucy yang lain yang ternyata sudah cukup banyak yang diterjemaahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Ada seri Emily (pun saya baru dapat satu buku) dan tentu saja, seri Anne of Green Grables (masih ada 3 buku yang belum saya dapat).


Gaya penulisan Lucy sebenarnya tak jauh beda dengan penulis-penulis perempuan pada jamannya seperti Laura Inggals Wilder dengan seri Little House in the Prairie-nya atau Louise May Alcott dengan Little Women-nya. Tapi tentu saja ia tetap memiliki kekhasan dalam tulisan-tulisannya. Karakter-karakternya biasanya adalah anak-anak perempuan yang ceria, optimis, 'tidak sempurna', tapi tetap istimewa. Dan tentu saja, penggambaran latarnya yang puitisnya juga sangat khas Lucy.

Sekilas tentang Lucy  Maud Montgomery
Lucy  Maud Montgomery (L.M Montgomery), merupakan penulis Kanada kelahiran 30 November 1874 di Clifton, Pulau Prince Edward, tempat yang kemudian menjadi latar utama dari cerita-ceritanya. Ketika Lucy berumur 21 bulan, ibunya meninggal karena TBC dan ayahnya kemudian menyerahkan pengasuhannya pada kakek dan neneknya di Cavendish.

Lucy M. Montgomery (sumber foto: nndb.com)

Pada usia 6 tahun, dia mulai bersekolah sekolah terdekat di Cavendish dan mulai menulis puisi dan membuat jurnal pada usia 9 tahun. Pada usia 16 tahun, puisinya yang berjudul "On Cape LeForce" dipublikasikan oleh koran loka, The Patriot. Setelah menyelesaikan sekolahnya ia kemudian belajar untuk mendapatkan ijin mengajar di Prince of Walles College selama dua tahun. Selepas itu, ia mulai mengajar di beberapa sekolah dan sempat berhenti untuk belajar literatur di Universitas Dalhousie, Nova Scotia dimana ia mulai menulis secara profesional.

Setelah kematian kakeknya pada tahun 1898, Lucy kemudian tinggal bersama neneknya di Cavendish hingga 13 tahun kemudian, dan selama masa-masa di Cavendish inilah ia teruse menulis berbagai puisi, cerita dan serial untuk majalah berbahasa Inggris dan mendapat penghasilan yang lumayan dari sana.

Tahun 1905,dia menulis novel pertamanya yang kemudian menjadi sangat terkenal, Anne of Green Grables setelah dipublikasikan pada tahun 1908 dan ia pun dinobatkan sebagai novelis dengan karir yang cemerlang. Pada tahun 1911, setelah kematian neneknya, ia menikah dengan dengan Reverend Ewan Macdonald, setelah sebelumnya sempat terlibat beberapa kisah romantis dengan sepupunya, Edwin Simpson dan Herman Leard. Bersama suaminya, ia kemudian pindah ke Leaksdale Ontario dimana Macdonald menjadi menteri gereja Presbyterian. Lucy kemudian melahirkan 3 putra, Chester (1912), Hugh (lahir dan menignggal 1914) dan Stuart (1915). Sembari membantu kerja suaminya, ia tetap menulis. Pada tahun 1935, mereka pindah ke Toronto hingga Lucy meninggal pada 24 April 1942, disusul suaminya satu tahun kemudian. Jasad Lucy kemudian disemayamkan di tempat kesayangannya, Pulau Prince Edward.

Kediaman Lucy di Cavendish yang dijadikan situs sejarah (sumber: tourismpei.com)

Seperti tokoh-tokoh dalam bukunya, konon Lucy juga adalah sosok yang cerdas dan sangat sensitif dan sosok Emily dan trilogi Emily, konon merupakan karakter yang paling mirip dengan dirinya.

Selama hidupnya, Lucy telah menerbitkan 20 novel, dan lebih dari 500 cerita pendek, autobiografi dan kumpulan puisi. Untuk menghormati dirinya, L.M Montgomery Institute mendirikan, University of Prince Edward Island pada tahun 1993. Selain ini kediaman Lucy di Leaskdale Manse, Ontario Ontario dan juga Green Gables dan Cavendish di Pulau Prince Edward dijadikan situs sejarah nasional oleh pemerintah Kanada.

Karya-karya Lucy:

Seri Anne of Green Gables:
- Anne of Green Gables (1908)
- Anne of Avonlea (1909)
- Anne of the Island (1915)
- Anne of Windy Poplars (1936)
- Anne's House of Dreams (1917)
- Anne of Ingleside (1939)
- Rainbow Valley (1919)
- Rilla of Ingleside (1921)


Seri Emily:
- Emily of New Moon (1923)
- Emily Climbs (1925)
- Emily's Quest (1927)


Seri Pat of Silver Bush:
- Pat of Silver Bush (1933)
- Mistress Pat (1935)


The Story Girl:
- The Story Girl (1911)
- The Golden Road (1913)

Miscellaneous:
- Kilmeny of the Orchard (1910)
- The Blue Castle (1926)
- Magic for Marigold (1929)
- A Tangled Web (1931)
- Jane of Lantern Hill (1937)

Kumpulan Cerpen:
- Chronicles of Avonlea (1912)
- Further Chronicles of Avonlea (1920)
- The Road to Yesterday (1974)
- The Doctor's Sweetheart and Other Stories, selected by Catherine McLay (1979)
- Akin to Anne: Tales of Other Orphans, edited by Rea Wilmshurst (1988)
- Along the Shore: Tales by the Sea, edited by Rea Wilmshurst (1989)
- Among the Shadows: Tales from the Darker Side, edited by Rea Wilmshurst (1990)
- After Many Days: Tales of Time Passed, edited by Rea Wilmshurst (1991)
- Against the Odds: Tales of Achievement, edited by Rea Wilmshurst (1993)
- At the Altar: Matrimonial Tales, edited by Rea Wilmshurst (1994)
- Across the Miles: Tales of Correspondence, edited by Rea Wilmshurst (1995)
- Christmas with Anne and Other Holiday Stories, edited by Rea Wilmshurst (1995)
- The Blythes Are Quoted, edited by Benjamin Lefebvre (2009) (companion book to Rilla of Ingleside)


Puisi:
- The Watchman & Other Poems (1916)
- The Poetry of Lucy Maud Montgomery, selected by John Ferns and Kevin McCabe (1987)


Non-fiksi:
- Courageous Women (1934) (with Marian Keith and Mabel Burns McKinley)
Otobiografi:
- The Alpine Path: The Story of My Career (1974; originally published in Everywoman's World in 1917)
- The Selected Journals of L.M. Montgomery (5 vols.), edited by Mary Rubio and Elizabeth Waterston (1985–2004)
- The Complete Journals of L.M. Montgomery: The PEI Years 1889-1911 (2 vols.), edited by Mary Henley Rubio and Elizabeth Hillman Waterston (2012-2014)


Sumber: wikipedia.org, lucymontgomery.com