Saya membelinya di sebuah pameran buku. Pertimbangan saya membelinya lebih karena harganya yang murah (15.000,-) dan cukup tebal (400-500 halaman). Saya pikir, buku yang tebal pastilah memiliki banyak detail, dan saya suka dengan buku yang memiliki kedetailan.
Buku pertama adalah The Weird Sister,yang ditulis oleh Eleanor Brown, penulis Amerika. Versi terjemahan buku ini diterbitkan oleh Penerbit Bentang Pustaka (2011). Sampul depannya bergambar potret seorang gadis pirang yang duduk di pinggir jalan dengan kopernya. Sebenarnya saya tidak suka dengan sampul berupa foto seseorang, tapi ketika membaca sinopsisnya bahwa ini adalah tentang tiga perempuan bersaudara yang tengah mengalami masa-masa sulit, membuat saya memutuskan untuk membeli.
The Weird Sister bercerita tentang kehidupan 3 kakak beradik, Rose (Rosalind) si sulung, Bean (Bianca) si nomer dua dan Cordy (Cordelia) si bungsu. Mereka dibesarkan oleh orang tua yang harmonis. Ayahnya seorang profesor Sastra di Universitas lokal yang fanatik dengan Shakespeare. Tak heran jika nama-nama anaknya dinamai dengan tokoh-tokoh perempuan dalam karya Shakespeare. Dan judul buku ini sendiri, The Weird Sister juga diambil dari Shakespeare.
Ketika ibu mereka divonis kanker, ketiga kakak beradik ini juga sedang mengalami masa kritis dalam hidupnya. Rose, yang paling mapan (punya pekerjaan tetap dan tunangan yang ideal), dihadapkan pada pilihan untuk keluar dari comfort zone-nya karena tunangannya mengajak pindah ke Inggris. Bean yang glamour terjerat utang yang membuatnya dikeluarkan dari pekerjaan. Ia juga dilanda krisis perempuan yang beranjak menua dan kekhawatiran tak lagi menarik bagi laki-laki. Sementara Cordy yang berjiwa petualang dan tidak dewasa juga terpaksa harus berkompromi dengan keadaan ketika menyadari dirinya hamil. Dalam keadaan terpuruk, ketiga bersuadara ini 'terpaksa' berkumpul di rumah dan belajar untuk melihat keadaan dengan lebih dewasa.
Banyak pelajaran menarik dari cerita ini. Mungkin Rose, Bean dan Cordy adalah perempuan-perempuan Amerika, dengan budaya dan nilai-nilai yang berbeda, tapi juga tidak terlalu berbeda dengan perempuan lain di tempat lain. Membaca buku ini, saya juga ikut merasa bahwa saya juga pernah merasakan beberapa hal yang dialami Rose, Bean maupun Cordy. Karakter-karakternya terasa kuat dan nyata, dengan penceritaan yang ringan dan cair. Satu hal yang agak menganggu adalah kutipan-kutipan Shakespeare yang alih-alih membuatnya terasa 'lebih berbobot' justru terkesan latah (tapi mungkin ini juga masalah penerjemahan, karena bahasa-bahasa puitis sering hilang dalam penerjemahan).
Beberapa kutipan yang menurut saya makjleb: "Apakah ia pernah sukses dalam apapun selain bepergian?...Dulu ia berpikir bahwa keberanian sama dengan bepergian...Sekarang ia tahu bahwa bepergian tidak membutuhkan keberanian, kekuatan saat ia hadir, saat ia menetap. (lah yang membutuhkan keberanian)" (Pikiran Cordy, hal 331-332)
Buku kedua adalah "Angel's Cake" ditulis oleh Gaile Parkin, diterbitkan oleh Qanita (2009). Versi aslinya berjudul "Baking Cakes in Kigali". Saya memutuskan untuk membeli karena ada kata Rwanda. Saya tertarik untuk tahu lebih banyak tentang Rwanda. Tadinya, saya berpikir mungkin ini novel-novel ala Harlequein, yang menjadikan negara Afrika sebagai latar cintanya. Tak apalah, pikir saya, kadang ada hal-hal menarik bahkan dari sebuah cerita picisan sekalipun.
Ternyata, saya salah. Angel's Cake sama sekali tidak picisan. Ini adalah sebuah cerita 'besar' yang indah tapi ditulis seolah tanpa pretensi karena diceritakan melalui sudut pandang seorang ibu bersahaja pembuat kue, Angel Tungaraza. Angel sebenarnya seorang nenek dari lima orang cucu. Dua anaknya sudah meninggal karena penyakit yang mematikan sekaligus memalukan. Ia berasal dari Tanzania, dan karena tuntutan pekerjaan suaminya yang jadi dosen, mereka pindah ke Rwanda yang baru saja porak poranda oleh genosida yang mengerikan. Sehari-hari, Angel mengelola bisnis kue untuk orang-orang elit di sekitarnya: duta besar, pekerja-pekerja internasional, rekan suaminya...
Angel kemudian akan mengajak pembaca untuk mendengarkan obrolannya dengan para pelanggan dan orang-orang di sekitarnya dengan kisah-kisah hidup mereka yang dramatis, tapi juga memberikan banyak perenungan. Betapa perang dan kekerasan telah menghancurkan banyak hal, tapi betapa juga orang-orang selalu punya kekuatan untuk bertahan. Kita juga diajak untuk melihat sekilas kehidupan di sebuah negara seperti Rwanda, dengan AIDS dan kemiskinan yang merajalela, dan bagaimana harapan akan sesuatu yang lebih baik selalu ada. Sungguh, sebuah novel yang sangat layak untuk dibaca.
Note: Gaile Parkin merupakan penulis kelahiran Zambia, dan bekerja di banyak tempat di Afrika, salah satunya adalah Rwanda, dimana dia memberikan konseling kepada perempuan Rwanda yang menjadi korban genosida. Dia juga menerbitkan beberapa buku bacaan sekolah dan anak-anak. Bukunya yang lain adalah When Hoopoes go to Heaven, dan Way Ahead (sumber: goodreads.com)


No comments:
Post a Comment